Pengunjung Membludak, CFD Alun-alun Bojonegoro Sukses Digelar

CFD di alun-alun Bojonegoro.
Pengunjung CFD di Alun-alun Bojonegoro membludak.

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Kegiatan Car Free Day (CFD) di Alun-alun Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sukses digelar, Minggu (5/11/2023). Pengunjungnya membludak. Kegembiraan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah juga tampak memancar dari wajah dan gestur mereka, sebab menempati lapak lama.

Salah satu pelancong CFD asal Desa Dander, Eko Siswanto mengaku sangat bersemangat atas digelarnya kegiatan ini kembali di alun-alun. Sebab dirasa lebih bersih, dan merupakan caraka olahraga maupun wisata yang nyaman di tengah kota, jika dibandingkan dengan stadion.

“Bisa dilihat sendiri kan, gimana ramainya,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Pedagang CFD Bojonegoro, Sumarjo mengungkapkan rasa bahagianya atas digelarnya kembali CFD di alun-alun. Ini karena lalu lalang pelawat lebih ramai jika dibanding di stadion. Sehingga otomatis berpengaruh pada pendapatan para penjaja dagangan.

Jika dihitung, omzet berjualan nasi pecel di CFD misalnya, bisa meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Taruh kata dari omzet Rp500 ribu di hari biasa, ketika CFD bisa mencapai Rp1 juta dalam 3 jam saja. Ini berbeda dengan omzet ketika berjualan di stadion, karena seringkali omzetnya malah lebih kecil dibanding durasi yang sama dengan saat berdagang di CFD alun-alun.

Baca Juga :   Cromboloni, Jajanan Jagoan Baru Banyak Diburu di Bojonegoro

“Bandingannya jauh banget Mas antara pendapatan di sini (alun-alun) dengan stadion,” ujar pria berdomisili di Desa Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro.

CFD Alun-alun Bojonegoro.
Ketua Pedagang CFD Bojonegoro, Sumarjo.

Namun begitu, menurut Pak Jo, sapaan akrab Sumarjo, animo pedagang kaki lima (PKL) untuk berdagang di alun-alun yang demikian tinggi juga perlu dicarikan jalan keluar yang baik. Sebab anggotanya saja terdiri pedagang lama sudah terdata sebanyak 456 orang. Belum lagi jika ditambah sejumlah peminat lapak yang baru, diperkirakan ada 600an orang.

Disinggung perihal penempatan para pedagang yang kembali menempati lokasi lama mereka, bukan pada lay out CFD yang baru. Pak Jo mengatakan bahwa lingkaran atau cincin alun-alun sebetulnya adalah tepi jalan yang berbatasan langsung dengan tepi terluar alun-alun. Sejak dulu memang dilarang.

“Yang tidak boleh ditempati berdagang sejak dulu ya cincin alun-alun, sedangkan kami pedagang lama berada seberang cincin, atau di luar cincin,” terang Pak Jo.

Para pedagang yang saat ini berada pada cincin atau lingkaran tepi alun-alun dia katakan adalah para pedagang baru usai adanya pemindahan CFD ke stadion yang dilakukan oleh rezim lama.

Baca Juga :   Perdana, Kecamatan Padangan Launching Mena CFD

“Mereka terpaksa menempati cincin alun-alun karena tidak tertampung di luar cincin, harapan kami ada solusi untuk itu,” bebernya.

CFD alun-alun Bojonegoro.
Sekda Bojonegoro, Nurul Azizah meninjau langsung CFD di Alun-alun.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro, Nurul Azizah meninjau langsung pelaksanaan CFD. Menurut perempuan santun ini gelaran CFD di alun-alun sukses dan mendapat sambutan baik semua pihak.

“Alhamdulillah kegiatan CFD di alun-alun pagi ini sukses. Pengunjung dan yang olahraga tidak merasa terganggu oleh PKL,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com dalam wawancara cegat.

Kendati, perhelatan CFD ini perlu untuk dievaluasi. Terutama pada lay out pedagang. Mbak Nurul, sapaan akrab Nurul Azizah membenarkan jika cincin yang dimaksud pada alun-alun adalah tepi jalan terluar yang berbatasan langsung dengan alun-alun, bukan pada sisi tepi seberang jalan.

“Nanti kami evaluasi, dan mungkin akan kita tambah beberapa kegiatan pendukuang di CFD alun-alun, misal sosialisasi program dari OPD yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, perpustakaan, dan sebagainya,” tegasnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *