Tiga Petani Terdampak Longsoran Tanah Belum Terima Ganti Rugi dari Kontraktor Migas Kolibri

Tiga petani saat mengecek lahan dan tanaman padi yang tertimbun longsoran tanah bercampur material proyek plengsengan lokasi sumur migas Kolibri.
Tiga petani saat mengecek lahan dan tanaman padi yang tertimbun longsoran tanah bercampur material proyek plengsengan lokasi sumur migas Kolibri.

SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko

Bojonegoro – Tiga petani yang lahan pertaniannya terdampak longsoran tanah bercampur material proyek plengsengan (tembok penahan tanah/TPT) lokasi sumur minyak dan gas bumi (Migas) Kolibri di Kecamatan Ngambon, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, hingga kini belum mendapatkan ganti rugi dari perusahaan yang mengerjakan proyek.

Ketiga petani itu adalah Yoto Waluyo, warga Desa Ngambon, dan Sadik serta Mardi warga Desa Bondol, Kecamatan Ngambon.

Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Petrowell vendor Pertamina EP Sukowati Field Zona 11 sejak bulan Desember 2023 lalu.

Yoto Waluyo petani Desa Ngambon yang lahan dan tanaman padinya terdampak proyek mengaku, hingga saat ini belum ada pihak dari kontraktor yang mengerjakan proyek plengsengan lokasi sumur migas Kolibri berkoordinasi.

“Sampai saat ini belum mendapatkan ganti rugi. Jangankan ganti rugi, dari pihak kontraktor yang mengerjakan proyek saja belum ada yang berkoordinasi, Pak,” kata Yoto Waluyo kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (19/03/2024).

Hal senada diungkapkan Nurdiansyah. Putra Sadik ini menjelaskan, bahwa belum ada satupun pihak dari kontraktor Petrowell maupun Pertamina yang menemui untuk berkoordinasi terkait dampak longsoran tanah bercampur material ke lahan pertaniannya tersebut.

Baca Juga :   Mediasi Berjalan Alot, Warga Tetap Tuntut Kompensasi Dampak Migas Kolibri

“Koordinasi saja belum, apalagi memberikan ganti rugi, ya sama sekali belum,” ujarnya.

Dia berharap, pihak kontraktor punya itikad baik untuk segera menyelesaikan masalah tersebut jika ingin pekerjaannya berjalan lancar.

“Kalau ingin aktivitasnya lancar ya segera diselesaikan. Karena kami merasa dirugikan atas dampak proyek yang merusak lahan serta tanaman padi, jagung dan kacang hijau,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah terkait dampak longsoran tanah proyek Kolibri yang merusak lahan dan tanaman pertanian warga tersebut. Manager Communication Relations & CID Regional Jawa Timur dan Indonesia Bagian Timur Subholding Upstream Pertamina, Rahmat Drajat mengaku, pihaknya masih berkoordinasi dengan kontraktor yang dilokasi Kolibri.

“Kami tanyakan kembali kepada kontraktornya njih (ya) pak,” kata Rahmat Drajat.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *