Tradisi Colok Malam 29 Ramadan di Desa Sekitar Migas Blok Cepu Masih Lestari

Tradisi Colok.
Warga sekitar migas Blok Cepu di Dusun Temlokorejo, Desa/Kecamatan Gayam, menyalakan colok di depan pintu masuk rumanya pada malam 29 ramadan.

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Tradisi colok malam sanga likur atau malam 29 ramadan masih lestari di desa-desa di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Warga sekitar lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu itu beranggapan dengan menyalakan colok bisa membantu menunjukkan jalan kerabatnya yang sudah meninggal dunia.

Colok adalah lampu penerangan dari ublik kecil, atau oncor- bambu kecil yang dalamnya diberi minyak tanah dan ujungnya diberi kain bekas.

Colok dipasang warga di depan rumah. Kemudian dinyalakan saat menjelang adzan mahgrib tepat pada malam 29 ramadan.

“Semua warga di sini setiap malem songo selalu membuat dan menyalakan colok. Di sini ada 40 an kepala keluarga,” kata Ketua Rukun Tetangga (RT) 35 RW 07 Dusun Temlokorejo Desa Gayam, Kamidin kepada suarabanyuurip.com, Senin (8/4/2024).

Kamidin menjelaskan, memasang dan menyalakan colok setiap malam 29 ramadan sudah menjadi tradisi warga Temlokorejo turun temurun. Yang membedakan jumlah dan lokasi colok.

Jika zaman dulu, lanjut Kamidin, warga menaruh colok di beberapa tempat. Seperti tiap sudut rumah, balai (ruang tamu), pintu masuk, pintu kamar, pintu belakang dan tempat sampah. Selain itu warga juga menyalakan dupa (membakar belerang).

Baca Juga :   Sidang Korupsi BKKD Padangan, Kadin PU Bina Marga Banyak Jawab Tidak Tahu

“Sebab dulu kan belum ada penerangan lampu seperti sekarang ini. Kalau sekarang hanya di depan rumah. Dan, sekarang sudah tidak ada yang membakar dupa,” tutur tokoh masyarakat Desa Gayam ini.

Tradisi colok.
Tradisi colok malam 29 ramadan masih tetap lestari di desa-desa sekitar migas Blok Cepu.

Dari cerita turun temurun para orang tua dahulu, kata Kamidin, menyalakan colok pada malam 29 ramadan ini untuk membantu menunjukkan jalan arwah para kerabat yang sudah meninggal dunia yang ingin pulang ke rumah. Karena itu, colok dipasang dan dinyalakan mulai tiap sudut rumah, depan pintu masuk, ruang tamu, pintu kamar, pintu belakang, dan tempat sampah.

“Kata orang tua dahulu, para kerabat yang sudah meninggal dunia ini pulang ke rumah dan ingin pamitan kepada keluarganya yang masih hidup. Makanya kalau dulu hajatan itu dilakukan warga hanya pada malam songo likur,” tutur Kamidin.

Tradisi menyalakan colok malam 29 ramadan juga dilakukan warga Desa Begadon, Kecamatan Gayam. Hampir semua warga menyalakan colok menjelang adzan Mahgrib.

Baca Juga :   Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg

“Di sini masih umum warga membuat colok. Sudah tradisi,” ucap Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Begadon, Winarto dikonfirmasi terpisah.

Senada disampaikan Sodik, warga Desa Katur, Kecamatan Gayam. “Tadi sore banyak warga yang menyalakan colok. Tapi bersamaan dengan hujan,” katanya.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *