SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) “Usaha Bhakti Manunggal” Desa Kaliombo, Kecamatan Puwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sukses mengelola kandang ayam petelur hingga memiliki dampak berganda ke masyarakat.
Ketua BUMDesa Usaha Bhakti Manunggal, Lilik Sugiarto (39) mengaku, tak pernah menyangka kandang ayam petelur yang dia operasikan bersama para pengurus dan awak kandang bakal menjadi sebesar saat ini. Yakni mencapai tiga unit dengan kapasitas total ayam sebanyak 3.500 ekor.
“Awalnya dulu pada 2021 dapat bantuan dari Pertamina EP Cepu (PEPC), kapasitasnya 1.000 ekor ayam petelur dalam satu unit kandang,” kata pria satu putra ini kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (23/04/2025) di sela kegiatan di kandang ayam.
Satu unit kandang itu mampu memproduksi telur sebanyak 60 Kilogram (Kg) per hari. Dari produksi ini Kas BUMDesa dapat terisi antara Rp300 ribu sampai Rp400 ribu per hari.
Satu tahun kemudian, pada 2023, berkat kegigihan pengelolaan, satu unit kandang ayam berikutnya didirikan, masih berupa bantuan dari PEPC. Daya tampungnya lebih besar, berisi 1.500 ekor ayam jenis horen highland. Dari 1.500 ekor ayam ini, 300 ekor diantaranya didanai dari Kas BUMDesa sendiri.
Keberhasilan ini berlanjut dengan mendirikan lagi satu unit kandang berkapasitas 1.000 ekor ayam pada 2024. Kandang ini wujud dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Pemerintah Desa Kaliombo. Sumber dananya dari Bantuan Keuangan Desa (BKD) ditambah dengan Kas milik BUMDesa.
“Kalkulasi total dari tiga unit kandang berdaya tampung 3.500 ekor ayam ini, produksinya bisa sampai 160 Kg per hari, dengan estimasi pendapatan sekira Rp1 juta per hari, dengan catatan jika kandang terisi semua,” beber Lilik.
Dalam menjalankan operasi produksinya, kandang ayam petelur BUMDesa ini diawaki oleh tujuh orang. Terdiri tiga anak kandang yang bertugas memberi pakan dan memanen telur. Mereka bekerja sejak pukul 07.00 WIB pagi sampai pukul 09.00 WIB, dan kembali lagi ke kandang pada pukul 14.00 WIB siang sampai selesai.

Kemudian, terdapat pula dua tenaga kebersihan, dan dua tenaga pemasaran. Tenaga pemasaran bertugas memasarkan telur ayam ke luar kandang dan melayani pembeli telur langsung ke kandang. Baik secara luar jaringan maupun dalam jaringan memanfaatkan media sosial.
Setiap produksi harian, telur tersebut selalu habis terjual. Penjualannya mulai dari Kaliombo sendiri, hingga ke Tambakrejo, Purwosari dan tembus ke Kecamatan Gayam. Transaksi itu menghasilkan laba bersih BUMDesa per bulan tembus Rp9 juta sampai Rp10 juta.
“Tapi laba ini belum termasuk beli gamping pada saat musim hujan,” ungkap Lilik.
Pembelian gamping itu, lanjut Lilik, merupakan cara mengatasi kendala berupa bau yang muncul lebih kuat saat musim penghujan. Dengan ditaburi gamping bau segera terserap karena kotoran ayam menjadi kering.
“Karena itu kami juga berikan telur gratis untuk menjaga harmoni dengan lingkungan sekitar kandang,” ucapnya.
Meski begitu, ia punya kendala lain yang tak bisa dikendalikan. Yakni ketika harga telur turun dan pada saat yang sama harga pakan naik. Namun kondisi ini disebutnya hanya mengurangi laba. Paling parahnya terjadi impas antar ongkos produksi dan pendapatan.
Kendala berikutnya, masih pada musim penghujan, yakni penyakit pilek yang menjadi sebab kematian beberapa ekor ayam. Tetapi dengan penanganan yang telah terlatih, mortalitas ayam terhitung tidak banyak, dan masih untung untuk produksi
Sedangkan untuk afkir ayam petelur setelah terlampaui usia produksi sepanjang 1,5 tahun, Lilik mengaku tidak ada kendala. Sebab sudah terjalin komunikasi dan jejaring yang baik dengan para pedagang afkiran. Mereka rerata berasal dari luar Kaliombo. Pun ada yang datang dari luar kota.
Keuntungan dari produksi telur ayam di kandang ini menjadikan BUMDesa punya kas hingga saat ini mencapai sekira Rp50 juta hingga Rp70 juta. Namun, bukan lembaga saja yang merasakan, tetapi juga para pedagang eceran di Kaliombo sendiri yang mendapat keuntungan dari selisih harga kandang lebih banyak.
“Selain itu masyarakat mendapat telur yang dijamin segar baru diambil dari kandang,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Desa (Kades) Kaliombo, Kecamatan Purwosari, Rohmad Edi Suyanto menambahkan, bahwa kandang ayam petelur yang dibudidayakan oleh BUMDesa Usaha Bhakti Manunggal menempati lokasi tanah kas desa. Sebagai bukti dukungan pemdes.
“Banyak keuntungan yang telah dirasakan dari adanya kandang ayam petelur di Kaliombo ini, salah satunya menyumbang Pendapatan Asli Desa yang kembalinya ke mayarakat juga to,” ungkapnya.
Tak hanya itu, keberadaan kandang itu pun menimbulkan dampak berganda atau multiplier effect dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Kaliombo. Sebab perjalanan produksi telur tak cuma untung di tingkat hulu melainkan sampai pula ke hilir. Keuntungan yang didapat warga secara keuangan pun lebih besar.
“Dua keuntungan lainnya yaitu BUMDesa juga memperhatikan lingkungan, ketika desa ada even, BUMDesa juga bisa menjadi sponsor, ada andilnya,” bebernya.
Bertolak dari telah adanya kandang ayam petelur di Kaliombo dan akan diterapkannya program Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) gagasan Pemkab Bojonegoro. Kades Rohmad menilai, program untuk keluarga kurang mampu di desanya nanti itu akan berpotensi berhasil.
“Karena saya dapat meminta BUMDesa sekaligus dapat membantu mendampingi para penerima manfaat program Gayatri untuk ikut mengontrol, jadi saya ndak ada ketakutan atas program ini, justru malah semangat dan sebagai tantangan buat kita semua,” tandasnya.(fin)





