SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko
Bojonegoro – Setelah dilakukan survei lokasi, DPMPTSP Provinsi Jawa Timur (Jatim) mendorong agar pabrik bioetanol segera masuk di Kabupaten Bojonegoro, tepatnya turut Desa Katur, Kecamatan Gayam. Sehingga dapat membuka peluang kerja dan meningkatkan perekonomian warga masyarakat sekitar.
“Saya mendorong ya agar pabrik bioetanol segara masuk di Bojonegoro. Namun semua juga tergantung pihak investor,” kata Sub koordinator Pengembangan Promosi Penanaman Modal DPMPTSP Jawa Timur, Iswahyudi Oky Saputro kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (28/05/2025).
Disinggung berapa rencana luas lahan yang dibutuhkan untuk pabrik bioetanol tersebut. Iswahyudi menyampaikan, bahwa untuk luas lahan yang dibutuhkan seluas sekira 5 sampai 10 hektare.
“Kalau pabrik luas lahan sekitar 5-10 hektare. Tapi itu juga tergantung investor. Kalau gudangnya tergantung jumlah kebutuhan jagungnya. Harapanya ya pabrik bisa segera masuk, sudah banyak lampu hijaunya,” ujarnya usai mengikuti survei lokasi pendirian pabrik bioetanol di Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, yang dilakukan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (BKPM RI) bersama perusahaan asal Jepang, JICA (Japan International Cooperation Agency).
Sementara dalam diskusi yang digelar di Balai Desa Gayam, bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bojonegoro, Pemerintah Desa (Pemdes) Katur dan Gayam, petani hutan, dan terkait yang di pandu penerjemah, BKPM Investment Promotion Policy Advisor (JICA Expert), Mr. Hiroyuki Amaya menanyakan beberapa hal kepada petani hutan. Diantaranya perihal berapa banyak petani yang tanam jagung, termasuk harga dan luas lahannya serta keluhan yang dialami.
“Investasi itu kan perlu untuk jangka panjang, tidak hanya jangka pendek. Jadi perlu adanya komunikasi yang baik dari petani maupun pemerintah daerah dan terkait. Serta dukungan dari semua pihak agar nanti bisa berjalan lancar sesuai harapan,” ujar Mr Hiroyuki Amaya melalui penerjemah (translator).
Salah satu perwakilan kelompok tani sekitar hutan, Rohmad menyampaikan, bahwa banyak petani sekitar hutan yang tanam jagung, dengan cara tanam manual. Sedangkan perihal keluhan pastinya ada, diantaranya cuaca yang tidak menentu, kebutuhan pupuk dan bibit termasuk harga yang acap kali naik turun.
“Seperti tahun ini cuaca yang harusnya sudah musim kemarau tapi masih sering turun hujan, jadi membuat pertumbuhan jagung tidak maksimal, dan harga jagung pun jadi mudah turun. Harga jagung kering saat ini tinggal Rp4.200 per kilogram,” kata Rohmad.
Karena itu, lanjut Rohmad, jika pabrik bioetanol ini benar-benar segera dibangun, tentu pihaknya sangat mendukung. Karena petani sekitar hutan bisa terlibat dalam mencukupi kebutuhan bahannya. Sehingga memudahkan untuk menjual hasil panen. Apalagi jika kebutuhan pupuk, bibit dan alat tanam dibantu, maka para petani akan semakin semangat dalam menanam jagung.
“Sangat mendukung adanya pabrik bioetanol ini. Sebab yang semula kesulitan menjual jagung menjadi tidak. Dengan begitu maka perekonomian para petani juga bisa terangkat,” imbuhnya.
“Untuk lahan tanam jagung disini sangat luas. Semoga saja pabrik bioetanol segera dibagun, agar petani hutan ikut sejahtera,” pungkasnya.(sam)




