SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Harapan baru akan kemandirian ekonomi dan bangkitnya potensi lokal kini berembus bak angin kencang di 12 desa di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Pasalnya, Operator Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang bermitra dengan Lestari Muda Indonesia, telah merampungkan musyawarah desa (Musdes) untuk sosialisasi program peningkatan kapasitas perencanaan dan pengembangan potensi desa.
Lestari Muda Indonesia, menyelenggarakan sosialisasi dalam musyawarah desa itu selama dua hari, sejak Rabu hingga Kamis, 9-10 Juni 2025.
Inti dari kegiatan ini adalah pembentukan Tim Pengelola Inovasi Desa (TPID), sebuah tim yang diharapkan menjadi ujung tombak dalam menggali dan memetakan kekayaan inovatif di masing-masing desa.
Kehadiran TPID sangat krusial. Tim ini beranggotakan enam orang, termasuk sekretaris desa, kaur perencanaan, dan perwakilan perempuan. TPID akan menjadi perwakilan masyarakat dalam mengidentifikasi potensi desa.
Selain itu, TPID juga akan mendapatkan fasilitas dan pendampingan khusus dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa. Sehingga potensi yang sudah dirumuskan dapat diwujudkan menjadi program unggulan desa atau bahkan program unggulan kawasan pedesaan yang berdampak luas.
Selama sosialisasi, masyarakat menampakkan antusiasmenya terhadap program ini. Kepala Desa Katur, Kecamatan Gayam, Sukono, mengungkapkan harapannya agar program ini dapat menumbuhkan ikon desa yang mampu menggerakkan roda perekonomian lokal.
“Kami berharap adanya ikon desa dapat menjadi sumber ekonomi baru dan membangkitkan rasa bangga masyarakat terhadap desanya,” kata Kades Sukono, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (10/7/2025).
Pria yang juga Ketua Paguyuban Kepala Desa se Kecamatan Gayam ini menambahkan, bahwa Desa Katur, misalnya, memiliki cita-cita untuk dikenal sebagai “Kampung Kambing”. Konsep ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber ekonomi baru dari sektor peternakan, tetapi juga menjadi identitas yang kuat bagi desa. Dia juga menekankan pentingnya TPID untuk jeli menggali potensi lain seperti kebudayaan dan pariwisata yang dapat memperkuat daya tarik desa secara keseluruhan.
“Dengan program ini, kami terbantu dalam mencari ikon desa yang sebenarnya desa memiliki cita-cita bahwasanya Desa Katur ini terkenal dengan peternakan kambingnya,” tambah Sukono, menunjukkan optimisme warga terhadap program ini.
Sementara itu perwakilan EMCL, Ali Mahmud, menegaskan komitmen perusahaannya dalam mendukung pembangunan desa melalui program ikon desa ini. Ia memperjelas bahwa ikon desa yang nantinya dihasilkan akan disusun melalui RKP Desa sebagai acuan pengembangan program.
“Kami juga sampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah desa dan masyarakat terhadap kelancaran operasi Lapangan Banyu Urip yang dikelola EMCL,” ujarnya.
Senada dengan itu, Manager Program Lestari Muda Indonesia, Edi Prayitno, menyampaikan terima kasih atas partisipasi aktif seluruh desa. Edi berharap TPID dapat menjadi motor penggerak dalam menggali potensi desa, sehingga ikon yang dihasilkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Tak hanya itu, bagi Edi, begitu ia karib disapa, proses sosialisasi di 12 desa berjalan cepat dan tepat sasaran berkat pelibatan masyarakat. Musyawarah ini juga berhasil mengungkap beragam potensi yang siap dikembangkan di 12 desa di Kecamatan Gayam. Mulai dari potensi wisata alam yang dapat dipadukan dengan budaya lokal, potensi pertanian dan peternakan, hingga potensi hasil alam yang dapat diolah menjadi makanan ringan.
“Keberadaan TPID diharapkan mampu mengoptimalkan potensi-potensi ini menjadi program unggulan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gayam,” ucap Edi.
Kegiatan Musyawarah Desa Sosialisasi ditutup dengan penyerahan berita acara pembentukan TPID dan dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai inventarisasi potensi desa di masing-masing wilayah, menandai langkah awal yang konkret bagi masa depan ekonomi Gayam.(fin)






