SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Keluarga penerima manfaat (KPM) program Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) telah menikmati hasil. Namun, ada beberapa ayam yang diterima KPM sakit hingga mati, dan belum bertelur.
Setiap KPM mendapat bantuan 54 ekor ayam petelur siap prpduksi, kandang batrai, stok pakan dua bulan, vaksin dan vitamin.
Salah satu KPM Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Moh. Kasrip mengatakan, bantuan ayam petelur sudah produksi setelah tiga minggu diterima. Namun ada juga yang mati, karena belum bisa beradaptasi dengan tempat baru. Terutama cuaca panas.
“Dari 54 ayam baru 42 ayam yang bertelur. Sedangkan ayam yang mati 4 ekor,” katanya, Selasa (23/9/2025).
Kasrip mengaku, dari 42 ekor ayam itu telah menghasilkan 2 kilogram telur setiap harinya. Setiap satu kilogram sebanyak 18 butir. Produksi tersebut dijual ke toko sekitar rumah.
“Kalau harganya, peternak mengikuti pasar. Apabila harga telur naik ya untung,” ujarnya.
Senada disampaikan KPM Gayatri asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Eksan. Ia mengatakan, bantuan ayam yang diterima dari program Gayatri telah bertelur.
“Manfaat sudah kami rasakan. Bisa menambah pendapatan keluarga, dan sebagiannya lagi buat beli pakan,” ujarnya.
Menanggapi adanya beberapa ayam petelur yang belum produksi, sakit hingga mati, dosen sekaligus praktisi peternakan, Awaludin Ridwan mengatakan, kondisi tersebut merupakan tantangan dari program Gayatri. Untuk mengetahui penyebab persolan tersebut perlu dipastikan lebih dahulu.
“Memang perlu diteliti kenapa ada ayam yang belum bertelur tapi sebagian sudah. Apakah itu karena usia ayam masih muda atau faktor lain. Begitu juga kenapa ada yang mati, apakah itu karena virus atau kondisi iklim,” tuturnya.
Awaludin menekankan, pentingnya menjaga kebersihan kandang secara rutin. Misalnya disemprot disinfektan setiap minggu agar virus mati.
“Ini dilakukan agar produktivitas ayam petelur ini tetap terjaga. Sehingga butuh ketekunan dalam perawatan,” tandasnya.(jk)





