SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Perusahaan raksasa migas Amerika Serikat, ExxonMobil kembali menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia. Produksi minyak lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sekarang ini menyalip produksi Blok Rokan di Provinsi Riau.
Produksi minyak Blok Cepu dan Blok Rokan selama ini saling salip. Pada 2020, lifting minyak Blok Cepu mencapai 217.617 barel per hari (bph), bahkan sempat menyentuh angka 230 ribu bph dan menjadi tertinggi di Indonesia.
Namun produksi Blok Cepu mulai turun di 2022. Dari target yang dipasang di APBN sebesar 182.000 bph, namun berdasarkan perhitungan angka teknis sesuai work program and buget (WP&B) dipasang 170.711 bph. Produksi ini terus menurun hingga di level 150 an ribu bph yang disebabkan oleh decline atau penurunan alamiah.
Sementara di waktu yang sama, produksi minyak Blok Rokan yang dikelola Pertamina Hulu Rokan meningkat hingga mencapai 163 ribu bph.
Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan mengatakan, produksi minyak lapangan Banyu Urip, Blok Cepu sekarang ini mencapai sebesar 170 ribu-180 ribu barel per hari (bph). Sedangkan jumlah produksi Blok Rokan saat ini antara 150 ribu-160 ribu bph.
“Iya betul. Blok Cepu sekarang ini jadi produsen minyak terbesar di Indonesia. Produksinya di atas Blok Rokan,” kata Anggono saat menghadiri peringatan Hari Tani Nasional yang dilaksanakan petani program sekolah lapang pertanian (SLP) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di sekitar lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Dusun Sumurpandan, Desa/Kecamatan Gayam, Selasa (30/9/2025).
Menurut Anggono, ada beberapa strategi untuk meningkatkan dan menjaga produksi minyak di Blok Cepu. Di antaranya melalui pengeboran tujuh sumur program Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Program BUIC ini telah menambah produksi 30 ribu bph dari lapangan Banyu Urip.
“Mau tidak mau untuk mempertahankan produksi kita optimalkan yang ada, dan menemukan cadangan-cadangan yang baru,” tegasnya.

Anggono menambahkan, produksi minyak wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara sekarang ini mencapai sekitar 250 ribu bph.
“Produksi terbesar dari Blok Cepu. 25 persen produksi minyak nasional dari sini,” tandasnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan, ada tiga lapangan di wilayah kerja pertambangan (WKP) Cepu yang segera dikembangkan. Yakni Kedung Keris West (Barat) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu; lapangan gas Alas Tuwo West di Desa/Kecamatan Ngasem; dan lapangan gas Cendana di Desa Cendono, Kecamatan Padangan.
“Total investasi untuk pengembangan tiga lapangan migas itu mencapai US$ 472,2 juta atau sekitar Rp 7,15 triliun,” ujar Bahlil saat kunjungan kerja di lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Senin 30 September 2024.
Bahlil menjelaskan, West Kedung Keris akan dikembangkan periode 2025-2027 dengan nilai investasi US$ 48 juta. Sedangkan lapangan gas Cendana investasinya mencapai US$ 170,3 juta, dan investasi lapangan gas Alas Tua West sebesar US$ 253,9 juta.
“Pengembangan ini untuk mencapai target program 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar kaki kubik gas bumi per hari (BSCFD) di 2030 guna mendukung ketahanan energi nasional,” tegasnya.
Pengembangan lapangan minyak Keduang Keris (KDK) ini dibenarkan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto saat mendampingi Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung menghadiri peresmian peningkatan produksi minyak lapangan Banyu Urip, Blok Cepu sebesar 30 ribu barel per hari (bph) di Kabupaten Bojonegoro, Kamis (26/6/2025).
“Untuk Kedung Keris, ini ada Presiden ExxonMobil, ya akan segera kita kembangkan untuk dilakukan pengeboran. Dan insyallah itu akan mendapat produksi juga lebih kurang 16 ribu barel per day untuk beberapa tahun kedepan,” kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto.
Ditanya akan ada penambahan berapa sumur di lapangan Kedung Keris, Djoko Siswanto kemudian bertanya kepada Presiden ExxonMobil Indonesia Wade Floyd yang berdiri disampingnya.
“Ya, satu sumur 15 ribu barel per day,” kata Djoko menerjemahkan pernyataan Wade Floyd yang menggunakan Bahasa Inggris.(suko)






