SuaraBanyuurip.com – Dalam memadukan pembahasan sejarah energi nasional dan inspirasi atlet berprestasi, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi, Satya Hangga Yudha Widya Putra, bertemu dengan Jeka Saragih, petarung mixed martial arts (MMA) Indonesia pertama yang berkompetisi di Ultimate Fighting Championship (UFC) di kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 18, Senin (03/11/2025).
Dalam pertemuan Satya Hangga Yudha Widya Putra dengan Jeka Saragih membahas mengenai sejarah minyak, sumur minyak masyarakat, lapangan idle, dan sumur tua di Sumut beserta Pertamina serta tanggung jawab Pertamina dan KESDM kepada bangsa dan negara.
Mas Hangga, begitu ia karib disapa, mengawali diskusi dengan menyoroti peran strategis Sumatera Utara (Sumut), tempat lahir Jeka Saragih, sebagai titik awal industri minyak nasional.
Hangga menjelaskan, sejarah penemuan minyak di Indonesia dimulai dari wilayah Langkat, Sumatera Utara. Meskipun pengeboran sumur penghasil minyak pertama yang dinamakan Sumur Telaga Tunggal secara resmi ditajak pada 15 Juni 1885, penemuan awal dan upaya eksplorasi di kawasan Telaga Said sudah dilakukan di sekitar tahun 1883 silam oleh seorang ahli perkebunan tembakau Belanda, Aeilko Jans Zijlker.
Hangga menyoroti bahwa banyak sumur minyak masyarakat, sumur tua peninggalan Belanda, dan sumur idle masih dapat direaktifasi dengan teknologi modern, menunjukkan bahwa potensi minyak di wilayah tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk kontribusi energi nasional.
Hangga mengatakan, bahwa kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak hanya melalui eksplorasi, tetapi juga melalui kepastian distribusi dan kontribusi fiskal. Kontribusi utama Pertamina di Sumut adalah memastikan ketersediaan stok dan distribusi BBM serta LPG (termasuk subsidi) berjalan aman.

Selain itu, lanjut Hangga, Pertamina memberikan kontribusi besar melalui Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang menyentuh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan masyarakat.
Dia menekankan, pengawasan distribusi BBM dan LPG bersubsidi adalah prioritas untuk meminimalisir praktik ilegal. Salah satunya oplosan LPG subsidi dengan LPG non-subsidi. Ketersediaan stok BBM di SPBU Pertamina dan SPBU swasta harus tetap dijaga.
”Kementerian ESDM memberikan perhatian khusus dan memantau perkembangan bisnis Pertamina. Sebenarnya, ada tiga BUMN utama di sektor energi dan mineral yang berada di bawah pengawasan Kementerian ESDM, yaitu Pertamina, PLN, dan MIND ID,” kata Hangga dalam keterangan tertulis yang diterima SuaraBanyuurip.com.
”Meskipun demikian, Pertamina sering menjadi pusat perhatian publik dan sayangnya, hal ini tidak selalu positif di mata masyarakat dikarenakan isu-isu sensitif seperti subsidi LPG, kelangkaan BBM, serta kasus korupsi,” lanjutnya.
Dalam konteks ini, kata Hangga, Pertamina terus menunjukkan komitmen dan transparansi tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan operasional belakangan ini, yang mencakup isu-isu krusial seperti pengawasan ketat terhadap distribusi LPG dan BBM, serta peningkatan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) untuk mengantisipasi dan menindak kasus korupsi.
”Upaya ini juga termasuk mengedukasi masyarakat mengenai kebijakan energi baru dan bauran bahan bakar, seperti penggunaan campuran etanol, demi memastikan kepercayaan publik terhadap kualitas produk energi nasional tetap terjaga,” tandasnya.
Sementraa, Jeka Saragih, yang merupakan kebanggaan Indonesia sebagai petarung UFC pertama, menyoroti pentingnya mentalitas juara bagi generasi masa depan Indonesia. Jeka Saragih juga menyampaikan mengenai pembinaan dan regenerasi atlet-atlet muda.
“Kami harus memastikan adanya pembinaan atlet-atlet Indonesia dari usia dini. Kami juga harus memberikan mereka sarana untuk bisa berkembang dan menjadi atlet kelas internasional. Karir dan masa depan para atlet harus dijamin juga ke depannya termasuk pendidikan-nya. Apabila mereka sudah pensiun mereka bisa dioptimalkan untuk bekerja di Pemerintahan baik di kantor maupun di lapangan,” kata Saragih.
“Prinsip kerja keras dan disiplin yang diterapkan sebagai petarung MMA bisa diterapkan di mana saja. Kita sebagai anak muda harus berprestasi dan berkontribusi dengan semangat juang yang tinggi,” ujar Saragih.
Semangat juang dan disiplin tinggi sangat dibutuhkan generasi muda Indonesia untuk mengambil peran di sektor strategis seperti energi, yang menuntut integritas dan GCG tinggi.
”Sinergi antara pemerintah dalam penyediaan regulasi yang tepat dan semangat pemuda adalah kunci untuk mencapai ketahanan energi yang dicita-citakan,” pungkasnya.(red)






