SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro — Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) meyakini produksi gas dari Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan mencapai kapasitas penuh 340 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari) pada pada 2026. Dengan catatan, pipa Gersem (Grisik-Semarang) bisa terkoneksi dengan Jawa Barat (pipa CISEM).
Direktur Utama PEPC Zona Regional Indonesia Timur, Muhamad Arifin, memaparkan perkembangan produksi gas Lapangan JTB tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (12/11/2025) kemarin.
Arifin menjelaskan, bahwa PEPC adalah operator lapangan JTB dan bekerja sama dengan ExxonMobil di wilayah kerja pertambangan (WKP) Blok Cepu.
“Lapangan JTB berbeda dari struktur lain yang sudah menurun produksinya, karena JTB justru baru kita start up (mulai) di pertengahan 2023 setelah COVID-19,” ungkap Arifin dikutip Suarabanyuurip.com dari siaran TV Parlemen, Kamis (13/11/2025).
Menurut Arifin, produksi gas JTB sepanjang 2024 terus mengalami peningkatan. Rata-rata, produksi gas JTB menghasilkan 197 MMSCFD gas dan 1.700 BCPD kondensat.
Peningkatan signifikan tersebut terjadi sampai dengan 30 September 2025, ketika produksi gas sudah mencapai sekira 230 MMSCFD dengan kondensat hampir 2.000 BCPD (barrel condensate per day).

Selama 2025, kata Arifin, produksi JTB rata-rata diproyeksikan mencapai 233 MMSCFD gas dan sekitar 2.014 BCPD kondensat. Namun, capaian tersebut baru berada di kisaran 90 persen dari target maksimal. Ini karena ada tantangan di sisi produksi.
Arifin menjelaskan, ada dua faktor utama yang menjadi tantangan produksi, yaitu eksternal dan internal. Tantangan eksternal berupa rendahnya kebutuhan gas (low demand), khususnya di wilayah Jawa Timur, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
“Kalau kita naikkan produksi sedikit saja dari 230, tekanan pipa PGN sudah menyentuh 635 psi. Itu sudah batas, tidak bisa kita naikkan lagi, ini membuat suplai gas harus disesuaikan dengan daya tampung jaringan pipa,” jelasnya.
Arifin yakin, produksi gas JTB akan mencapai full capacity sebesar 340 MMSCFD pada tahun 2026. Tetapi kenaikan ini baru dapat terjadi setelah terhubungnya pipa Grisem dengan jaringan gas Jawa Barat.
“Informasi dari SKK Migas, setelah bulan Maret 2026 ketika pipa Gersem (Grisik-Semarang) bisa terkoneksi dengan Jawa Barat (pipa CISEM), produksi JTB bisa meningkat ke full capacity,” bebernya.
“PEPC berkomitmen untuk terus menjaga kinerja operasional dan mengoptimalkan kontribusi gas JTB bagi ketahanan energi nasional,” lanjutnya menandaskan.(fin)



