Alokasi Pupuk Subsidi 2026 di Bojonegoro Tak Sepenuhnya Penuhi Usulan Petani

Petani Bojonegoro
Para petani di Kabupaten Bojonegoro sedang beraktivitas mencabut atau "ndaut" benih padi dari persemaian untuk dilakukan penanaman.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Alokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 2026 belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan yang diusulkan petani melalui Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Dari total usulan 185.622,4 ton untuk empat jenis pupuk, pemerintah menetapkan alokasi 130.177 ton atau sekitar 70 persen.

‎Empat jenis pupuk yang dialokasikan meliputi urea, NPK, organik, dan ZA. Meski realisasinya di bawah usulan, tetapi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro memastikan ketersediaan tersebut masih mencukupi kebutuhan pertanian sepanjang 2026.

‎Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana DKPP Bojonegoro, Yuni Arba’atun, menjelaskan, alokasi pupuk bersubsidi tahun depan mengacu pada Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Nomor 500/7683110.2/2025. Rinciannya, urea 63.213 ton, NPK 53.015 ton, pupuk organik 13.948 ton, dan pupuk ZA 1 ton.

‎“Jumlah itu memang masih di bawah usulan yang tercatat di e-RDKK,” kata Yuni Arba’atun kepada Suarabanyuurip.com, Senin (29/12/2025).

‎Pengajuan pupuk bersubsidi melalui e-RDKK berlangsung pada 22 September hingga 25 Oktober 2025. Total usulan berasal dari 188.738 petani dengan luas tanam mencapai 285.305 hektare. Rinciannya, urea 69.105 ton, NPK 75.762 ton, pupuk organik 40.755 ton, serta ZA 405 kilogram.

‎Jika dibandingkan dengan usulan, persentase alokasi mencapai 92 persen untuk urea, 70 persen untuk NPK, 34 persen untuk pupuk organik, dan 246 persen untuk ZA. Dengan begitu, hanya pupuk ZA yang alokasinya melampaui pengajuan, sementara tiga jenis lainnya masih di bawah kebutuhan.

‎Meski begitu, DKPP menilai alokasi 2026 tetap memadai asalkan pemanfaatannya sesuai rekomendasi teknis.

‎“Petani diharapkan tidak menggunakan pupuk kimia secara berlebihan,” tegas Yuni, sapaan akrabnya.

‎Dari sisi tren, total alokasi pupuk bersubsidi 2026 juga sedikit menurun dibanding 2025. Tahun lalu, Bojonegoro memperoleh 130.713 ton, terdiri atas urea 61.441 ton, NPK 47.189 ton, dan pupuk organik 22.083 ton.

‎”Dengan alokasi 2026 sebesar 130.177 ton, terjadi penurunan sekitar 536 ton,” tandasnya.(fin)

Pos terkait