SuaraBanyuurip.com – Lifting minyak bumi nasional tahun 2025 rata-rata mencapai 605,3 MBOPD atau 100,05 persen dari target APBN sebesar 605 MBOPD. Capaian lifting ini menjadi catatan bersejarah karena merupakan capaian pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir yang mencapai target APBN.
Capain lifting minyak nasional di atas target APBN 2025 tersebut salah satu terbesarnya disumbang dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) yang dilaksanakan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) berhasil mempertahankan produksi Blok Cepu, bahkan menyalip Blok Rokan.
Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan mengatakan, produksi minyak lapangan Banyu Urip, Blok Cepu sekarang ini mencapai sebesar 170 ribu-180 ribu barel per hari (bph). Sedangkan jumlah produksi Blok Rokan saat ini antara 150 ribu-160 ribu bph.
“Iya betul. Blok Cepu sekarang ini jadi produsen minyak terbesar di Indonesia. Produksinya di atas Blok Rokan,” kata Anggono saat menghadiri peringatan Hari Tani Nasional yang dilaksanakan petani program sekolah lapang pertanian (SLP) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di sekitar lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Dusun Sumurpandan, Desa/Kecamatan Gayam, Selasa, 30 September 2025.
Menurut Anggono, ada beberapa strategi untuk meningkatkan dan menjaga produksi minyak di Blok Cepu. Di antaranya melalui pengeboran tujuh sumur program Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Program BUIC ini telah menambah produksi 30 ribu bph dari lapangan Banyu Urip.
“Mau tidak mau untuk mempertahankan produksi kita optimalkan yang ada, dan menemukan cadangan-cadangan yang baru,” tegasnya.
Anggono menambahkan, produksi minyak wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara sekarang ini mencapai sekitar 250 ribu bph.
“Produksi terbesar dari Blok Cepu. 25 persen produksi minyak nasional dari sini,” tandasnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia saat konferensi pers, Kamis (8/1/2026), menyampaikan, capaian lifting minyak sebesar 605,3 MBOPD atau 100,05 persen dari target APBN 2025 sebesar 605 MBOPD ini menunjukkan tren positif kinerja sektor migas.
“Ini menjadi catatan bersejarah karena merupakan capaian pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir yang mencapai target APBN,” tegasnya.
Bahlil menyampaikan, untuk realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) SDA Migas yang dicatatkan melalui Kementerian Keuangan mencapai Rp105,04 triliun atau sebesar 83,7 persen dari target Rp125,46 triliun. Tidak tercapainya target PNBP subsektor migas, disebabkan oleh faktor harga minyak mentah (ICP) yang jauh di bawah asumsi makro yang ditetapkan pada tahun 2025
“Saya harus menyampaikan bahwa di dalam asumsi makro APBN kita, harga ICP itu USD82 per barel. Namun kenyataannya rata-rata sejak dari Januari sampai 31 Desember rata-rata harga minyak dunia itu USD68 per barel,” tuturnya.
Namun, Bahlil menjelaskan, secara keseluruhan realisasi PNBP tahun 2025 yang tercatat di pembukuan Kementerian ESDM sebesar Rp138,37 triliun. Jumlah tersebut di atas target awal yang ditetapkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2025 sebesar Rp127,44 triliun.
“Pencapaian target dari PNBP yang tercatat di Kementerian ESDM itu mencapai 108,56 persen, melampaui target. Dan ini saya harus jujur mengatakan bahwa ini kerja tim, kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas. Kenapa ini kita harus lakukan? Karena negara membutuhkan dana untuk bagaimana bisa membiayai program-program kerakyatan,” ujar Bahlil.
Bahlil menambahkab, keberhasilan melampaui target ini didorong oleh kontribusi signifikan dari beberapa subsektor, yang terbesar berasal dari PNBP sektor Sumber Daya Alam (SDA) Mineral dan Batubara (Minerba) yang mencapai 104,38 persen dari target, SDA Panas Bumi sebesar 103,4 persen, serta sektor lainnya yang melonjak hingga 311,05 persen.(red)




