SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Capaian program gerakan ayam petelur mandiri (Gayatri) yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur menunjukkan hasil positif. Secara bertahap ekonomi keluarga penerima manfaat (KPM) meningkat, setelah produksi telur mencapai puncak.
Puncak produksi telur program Gayatri Bojonegoro, mencapai 1.895.017 butir pada September 2025 kemarin. Jumlah tersebut dari hasil produksi ayam petelur di 400 KPM yang tersebar di 10 desa.
“Bantuan 54 ekor ayam diterima setiap KPM yang anggaranya bersumber dari APBD induk produksinya sudah maksimal,” kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki.
Dia menjelaskan, bantuan ayam yang diberikan sudah bertelur semua. Rata-rata per hari KPM bisa memanen telur hingga 87 persen atau 2,5 kilogram. Terutama di wilayah Kecamatan Bubulan dan Gondang yang produktifitas telur sangat tinggi.
Namun, sekitar 21.600 ekor ayam yang sudah disalurkan di KPM sejak Juli 2025 lalu tak semua berproduksi maksimal. Alasannya perbedaan cara merawat ayam petelur di setiap KPM. Misalnya penempatan kandang sangat berpengaruh bagi ayam petelur.
“Salah satunya yang perlu diperhatikan adalah ventilasi untuk menjaga sirkulasi udara. Jika hal tersebut tidak diterapkan, ayam rentan stres dan sakit,” jelasnya, Rabu (21/1/2026).
Apalagi saat musim hujan tahun lalu, ayam rentan terjangkit virus penyakit salah satunya flu. Dampaknya ayam sakit, bahkan sampai mati. Kata Fajar, petugas dari Disnakkan sudah memberikan pendampingan di KPM, dan terus melakukan pemantauan.
Jika ayam sakit petugas langsung melakukan tindakan awal pencegahan, dan mendatangi kandang KPM. Ini untuk meminimalisir kematian ayam.
“Kami mencatat angka kematian ayam Gayatri di APBD induk mencapai 3,8 persen dari total populasi. Hanya dua sampai tiga ayam mati di masing-masing KPM, tapi banyak juga yang masih utuh,” ujarnya.
Hasil Panen Telur Program Gayatri Dibuat Beli Kambing
Produksi telur program Gayatri telah dirasakan manfaatnya oleh KPM. Dari segi ekonomi, KPM bisa mendapat uang sebesar Rp 700 ribu dari jualan telur setiap bulannya.
“Itu angka bersih, karena sudah dipotong pakan ternak,” kata Fajar.
Dia mengungkapkan, program yang dirancang menciptakan kemandirian ekonomi keluarga prasejahtera ini sejak disalurkan Juni 2025 lalu, sudah sangat berkembang. Buktinya di salah satu KPM, tepatnya wilayah Ngasem bisa menambah satu kandang ayam.
“Artinya program berjalan maksimal. Bahkan kemarin juga ada KPM yang membeli kambing dari hasil jualan telur,” ungkapnya.
Program Gayatri bisa menutup defisit telur di Bojonegoro. Secara keseluruhan memenuhi 17 persen kebutuhan telur.
“Biasanya telur Gayatri digunakan untuk pemberian makan tambahan atau PMT balita di desa-desa. Sisanya untuk dikonsumsi sendiri,” ungkapnya.
Salah satu KPM di Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberrejo, Murtiah mengatakan, sudah memanen hasil telur Gayatri beberapa kali. Rata-rata dibeli tetangga, dan digunakan untuk kegiatan di desa.
“Kemarin jual 2,5 kilogram, meski jumlahnya naik turun tapi setiap hari bisa menjual. Bisa membantu perekonomian keluarga dan disambi kerja lain,” terangnya.(jk)






