SuaraBanyuurip.com – Sebanyak 110 wilayah kerja (WK) migas baru mencakup sumber daya konvensional maupun non-konvensional disiapkan untuk dilelang pada 2026. Langkah ini untuk membalikkan tren penurunan produksi minyak nasional dan membawa Indonesia kembali menuju kemandirian energi.
“Dari 110 area potensi WK tersebut, 19 area telah diminti atau laku (awarded), 39 area dalam tahap joint study dan 52 area potensi lainnya. Area ini mencakup potensi konvensional maupun non-konvensional seperti shale gas dan coal bed methane,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman.
Pengembangan 110 area potensi WK ini difokuskan pada kombinasi teknologi tinggi, kebijakan insentif, dan fleksibilitas kontrak untuk menarik investor di sektor hulu. Laode berarap, langkah ini dapat membalikkan tren penurunan produksi nasional dan membawa Indonesia kembali menuju kemandirian energi.
Laode menjelaskan, Pemerintah juga sedang melirik potensi besar dari aset-aset yang sudah ada namun belum optimal. Saat ini, teridentifikasi sebanyak 6.305 sumur idle di seluruh Indonesia yang memiliki potensi hidrokarbon.
“Terdapat 6.305 sumur idle yang memiliki potensi hidrokarbon. Sebanyak 787 sumur dapat segera di-reaktivasi dan hampir empat ribu sumur lainnya berpotensi untuk dikerjasamakan guna mendorong penambahan produksi minyak Indonesia,” papar Laode.
Indonesia pernah mengalami era keemasan perminyakan, namun mengalami penurunan sejak tahun 1997. Profil produksi minyak mentah Indonesia terus menunjukkan tren penurunan dalam tiga dekade terakhir. Pada tahun 1997 produksi minyak mentah mencapai 1.520 ribu barel minyak per hari dan pada tahun 2024 turun ke 580 ribu barel per hari. Sehingga meningkatkan produksi menjadi tantangan besar dalam sektor migas.
Meskipun saat ini tengah menghadapi tantangan natural decline, Laode menyampaikan bahwa kinerja di tahun 2025 memberikan optimisme dengan realisasi lifting minyak mencapai 605,3 MBOPD atau 100,05% dari target APBN. Sedangkan untuk lifting gas bumi di tahun 2025 lalu mencapai rata-rata 951,8 MBOEPD. Meski demikian, pada tahun 2025, seluruh kebutuhan gas tersebut dipasok dari produksi gas dalam negeri, tidak ada yang berasal dari impor.
“Pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan gas domestik, di mana dari total produksi 5.600 BBTUD, sebanyak 69% atau 3.908 BBTUD telah dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri tanpa bergantung pada impor gas,” pungkas Laode.
Pemerintah melalui Ditjen Migas Kementerian ESDM terus berupaya melakukan berbagai langkah strategis guna meningkatkan target lifting migas, mewujudkan ketahanan energi nasional dan menghadapi beberapa tantangan kegiatan usaha hulu migas dalam mencapai target produksi antara lain seperti natural decline, unplanned shutdown, kondisi alam seperti cuaca ekstrim, lokasi WK di remote area serta masalah pembebasan lahan.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suprawoto menegaskan, untuk meningkatkan lifting minyak harus dilakukan eksplorasi secara masif dan penggunaan teknologi yang andal.
“Untuk meningkatkan lifting kuncinya hanya dua, eksplorasi, eksplorasi, eksplorasi dan teknologi. Tanpa itu muskil. Itulah yang kita lakukan di DPR untuk mencipatkan ekosistem hulu migas yang lebih baik,” kata Sugeng dikutip dari kanal Youtube Detalk bertema: Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional, Asa Produksi Minyak 1 Juta Barel, Senin (9/2/2026).
Ia juga menyoroti tercapainya target lifting minyak 2025 sebesar 605 ribu barel per hari. Menurutnya, tercapainya target tersebut bukan murni dari produksi minyak, melainkan kondensat dan LNG dimasukkan di dalam penghitungan lifting minyak.
“Nanti akan kami tanyakan saat rapat dengar pendapat, karena jika kita bedah ternyata ada komponen kondensat dan LNG di dalamnya,” pungkas politisi Nasdem itu.(red)





