Keluarga Miskin Bojonegoro Berdaya dengan Program Kolega

Program Kolega.
Didik Sugianto, sedang memantau perkembangan lele di buis beton program bantuan Kolega dari Pemkab Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com – Program bantuan kolam lele keluarga (KOLEGA) telah dirsakan manfaatnya oleh keluarga miskin di Kabupaten Bojonegoro. Mereka mendapat tambahan penghasilan dari penjualan lele dan bisa mencukupi asupan gizi keluarga. Pemerintah kabupaten (pemkab) akan melanjutkan program tersebut untuk 335 keluarga penerima manfaat (KPM) pada tahun 2026 ini.

Salah satu KPM yang sudah merasakan hasil dari program Kolega adalah Didik Sugianto. Warga Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu, itu telah membuktikan bahwa ketekunan dalam mengelola bantuan kecil dapat berdampak besar bagi ekonomi keluarga dan lingkungan sekitar.

Didik awalnya mendapat bantuan paket kolega berupa buis beton sebagai kolam, bibit lele, dan stok pakan. Ia juga memperoleh pelatihan cara budidaya lele. Mulai dari memberi pakan, marawat, hingga memanen.

Didik bisa merawat lele bantuan di sela-sela aktvitasnya sebagai buruh serabutan. Memberi pakan pagi dan sore sebelum berangkat dan setelah pulang kerja.

Hingga saat ini, kolam milik Didik telah memasuki masa panen ketiga. Dari 250 benih yang dikelola, setiap kolamnya kini mampu menghasilkan sekitar 150 hingga 200 ekor lele siap konsumsi. Menariknya, Didik tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada nilai sosial.

Baca Juga :   Pemkab Bojonegoro Belum Bahas UMK 2026

“Hasil panen ini selain dijual untuk menambah penghasilan, juga kami bagikan kepada tetangga sekitar dan dikonsumsi sendiri untuk pemenuhan gizi keluarga,” ujar Didik.

Sebagai pembudidaya lele pemula, Didik mengakui tantangan terbesar masalah penjualan. Kapasitas produksi yang masih terbatas sempat membuatnya kesulitan menembus pasar skala besar. Dia pun berinisiatif membangun jejaring mandiri dengan pedagang lesehan lokal.

Dalam waktu 2,5 hingga 3 bulan, lele miliknya sudah siap panen dengan ukuran ideal—sekitar 12 ekor per kilogram—yang sangat diminati oleh para pedagang kuliner karena tekstur dagingnya yang pas.

Didik menyarankan kepada Pemkab Bojonegoro kedepan tidak hanya memberikan benih, tetapi juga membantu memetakan pasar terlebih dahulu agar peternak pemula tidak bingung saat masa panen tiba.

“Juga melibatkan ibu-ibu PKK untuk membantu mengedukasi masyarakat mengenai pengolahan pasca-panen maupun manajemen distribusi di tingkat RT/RW,” harapnya.

Keberhasilan Didik menjadi contoh nyata bagaimana stimulus kecil dari Pemkab Bojonegoro mampu menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan. Kuncinya, dikelola dengan baik.

Program kolega dirancang Pemkab Bojonegoro untuk mengurangi beban biaya pengeluaran dan menambah pendapatan keluraga miskin. Selain itu, meningkatkan gizi keluarga dan mendukung ketahanan pangan.

Kepala Bidang Perikanan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, M. Cholilur Rohman menjelaskan, program Kolega pada 2025 telah menyasar ratusan KPM. Tahun 2026 ini, program tersebut akan diperluas dengan menjangkau 335 KPM.

Baca Juga :   Buktikan Dukung Ketahanan Energi, PHE Catatkan Kinerja Optimal di Tahun 2023

Bantuan Kolega tahun 2026 akan dibagi dalam dua kategori utama. Yakni Kolega dengan kolam buis beton dan kolam terpal bundar. Kedua jenis bantuan ini disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan calon penerima di lapangan.

Calon penerima program Kolega berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Petugas akan melakukan verifikasi secara ketat agar program tepat sasaran.

“Saat ini masih tahap verifikasi lapangan,” tegasnya.

Adapun kriteria calon penerima manfaat meliputi beberapa hal, di antaranya terdaftar dalam DTKS desil 1 hingga 5, memiliki lahan yang cukup untuk pembangunan kolam, berada pada usia produktif.

Syarat lainnya, adalah memiliki potensi atau ketersediaan air untuk budidaya ikan, Memiliki minat dalam budidaya ikan, dan Sanggup melanjutkan usaha budidaya setelah program selesai.

“Melalui program Kolega ini diharapkan masyarakat tidak hanya memperoleh bantuan sarana budidaya, tetapi juga mampu mengembangkan usaha perikanan secara mandiri dan berkelanjutan,” pungkas Rohman.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait