SuaraBanyuurip.com – Pengembangan lapangan minyak West Kedung Keris (KDK), Blok Cepu, di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menuai prokontra dari dua kepala desa sekitar. Penyebabnya, pengeboran sumur West Kedung Keris akan dilakukan secara directional drilling atau pengeboran miring.
Pengeboran miring akan dilakukan dari sekitar tapak sumur minyak Kedung Keris yang sekarang ini sudah produksi. Jaraknya sejauh 3 kilo meter (Km) ke arah barat Desa Leran, Kecamatan Kalitidu.
“Iya sudah dengar,” kata Kepala Desa Leran, Mutabi’in ditemui suarabanyuurip.com di ruang kerjanya belum lama ini.
Mutab’in memperkirakan titik sumber minyak Kedung Keris Barat yang akan disedot itu berada antara Dusun Kuce dan Lestari.
“Karena informasi yang saya terima agak menceng ke selatan. Bukan lurus ke arah Ngujo,” sambung kepala desa dua periode itu.
Mutabi’in meminta agar pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat nantinya dilakukan pengeboran secara normal seperti sumur Kedung Keris di Desa Sukoharjo. Sehingga kegiatan tersebut bisa menyerap tenaga kerja dan membuka kesempatan usaha bagi warga Leran.
“Dulu saat proyek Kedung Keris yang di Sukoharjo itu setiap ada pekerjaan tenaga kerjanya dibagi. Karena tapak sumurnya di sana, dan akses masuknya dari leran,” tuturnya.
“Tapi kalau nanti di sini bisa dibangun tapak sumurnya tentu mayoritas tenaga kerjanya harus warga sini, sehingga bisa mengurangi pengangguran,” lanjut Mutabi’in.
Selain menciptakan peluang kerja dan usaha, tambah dia, jika sumur Kedung Keris Barat dibor normal akan menjadikan Leran sebagai desa penghasil minyak seperti Desa Sukoharjo. Sehingga dapat menambah jumlah alokasi dana desa (ADD) yang diterima Desa Leran.
“Karena salah satu syarat utama penetapan desa penghasil itu ada tapak sumurnya,” tegasnya.
Mutabi’in mengungkapkan, Desa Leran sekarang ini ditetapkan sebagai desa ring dua lapangan minyak Kedung Keris. Padahal secara admnistratif jarak Desa Leran dengan sumur minyak Kedung Keris di Desa Sukoharjo hanya 50 meter.
“Ini kan nggak adil. Apalagi akses masuknya dari sini, tapi kita jadi desa ring dua,” pungkasnya.
Berbeda dengan Desa Leran. Kepala Desa Sukoharjo, Sulistiyawan mengaku lebih setuju jika sumur Kedung Keris Barat dilakukan pengeboran miring. Alasannya, akan lebih efisien karena tidak banyak membebaskan lahan pertanian untuk pembangunan tapak sumur dan akses jalan masuk.

Selain itu, lanjut Sulis, panggilan akrabnya, pengeboran miring sumur Kedung Keris Barat akan lebih banyak memberikan kesempatan kerja dan usaha bagi warga Sukoharjo. Karena kegiatan utama akan berlangsung di desanya.
“Juga jumlah ADD Proporsional yang akan diterima Sukoharjo sebagai desa penghasil minyak Kedung Keris juga bisa bertambah, karena jumlah produksi minyaknya meningkat dari tambahan sumur Kedung Keris Barat,” jelasnya.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, dalam laporannya pada Selasa (7/7/2026), menyampaikan, West Kedung Keris diproyeksikan mampu memberikan tambahan produksi minyak sekitar 15.000 barel per hari (BOPD) hanya dari satu sumur.
Menurut Djoko, pengeboran West Kedung Keris menjadi salah satu proyek prioritas ExxonMobil Cepu (EMCL) dalam mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi Blok Cepu, yang selama ini merupakan tulang punggung produksi minyak nasional.
bahwa Wakil Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Bojonegoro turun langsung ke lokasi untuk mendukung pemanfaatan lahan seluas sekitar 6.000 meter persegi yang akan digunakan sebagai area pengeboran sumur West Kedung Keris.
“Wagub dan Bupati Bojonegoro turut hadir ke lokasi mendukung pemanfaatan 6.000 meter untuk keperluan pengeboran sumur West Kedung Keris Exxon Cepu,” kata Djoko saat mengunjungi lapangan Kedung Keris bersama Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah, serta pejabat pemerintah Provinsi Jatim dan Pusat, Selasa (7/7/2026).(red)



