SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati (Wabup) Nurul Azizah turun langsung ke lahan ikut memanen tembakau milik petani di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, Rabu (12/8/2026).
Kedua tokoh asli Bojonegoro itu tidak hanya meninjau kondisi tanaman, tetapi juga ikut memetik tembakau bersama para petani. Ini merupakan bagian dari agenda Medhayoh Bupati sekaligus upaya pemerintah kabupaten (pemkab) melihat secara langsung perkembangan budidaya tembakau di tingkat petani.
Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu daerah penghasil tembakau di Jawa Timur. Pada 2025, Bojonegoro tercatat sebagai daerah dengan produksi tembakau terbesar kedua di Jawa Timur, yakni sekitar 14.163 ton.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono berharap, produksi tembakau pada 2026 dapat kembali meningkat. Pemkab Bojonegoro, kata dia, terus berupaya mendukung petani, salah satunya melalui pemberian bantuan benih tembakau.
”Bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan komoditas tembakau yang menjadi salah satu andalan pertanian Bojonegoro,” kata Bupati Setyo Wahono.
Sementara itu, salah satu petani tembakau di Desa Cengkir, Sahli, menyebut, harga tembakau rajangan saat ini mulai bergerak naik. Harga di tingkat petani berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp43.000 per kilogram.
Menurut Sahli, petani berharap harga tersebut terus bertahan dan meningkat hingga tembus Rp50.000 per kilogram.
“Sekarang sekitar Rp40 ribu sampai Rp43 ribu per kilogram. Kalau stabil, harapannya bisa sampai Rp50 ribu,” ujarnya.
Sahli menilai, harga jual menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keuntungan petani. Pasalnya, petani harus mengeluarkan biaya dan tenaga sejak proses penanaman, perawatan hingga panen dan pengolahan tembakau.
”Kami berharap dukungan pemerintah serta kondisi harga yang membaik dapat mendorong peningkatan produksi sekaligus memberikan hasil yang lebih baik bagi petani tembakau di Bojonegoro,” ucapnya.(fin)





