Wajah kekeringan di musim kemarau panjang di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
TAMPARAN terik matahari siang itu terasa menyengat di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Panas seperti tak memberi ruang bagi pepohonan untuk bernapas. Daun-daun menguning, rerumputan meranggas, sementara tanah perlahan kehilangan kelembapannya.
Musim kemarau memang bukan perkara baru bagi warga setempat. Namun, setiap musim datang dengan cerita yang berbeda. Ketika hujan tak kunjung turun, kekeringan kembali menjadi momok bagi masyarakat pinggiran hutan yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada sumber air di sekitarnya.
Kekeringan bukan sekadar tanah yang retak atau sumur yang mengering. Dia adalah cerita tentang manusia yang perlahan kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap biasa, yaitu air.
Matahari menggantung garang di atas hamparan sawah. Tanah yang dahulu basah oleh embun kini retak memanjang, menyerupai luka yang tak sempat dijahit. Di antara rerumputan yang menguning, petani berdiri memandangi lahan yang tak lagi menjanjikan panen.
Hari-hari tanpa hujan mengubah banyak hal. Bagi sebagian warga, kekeringan berarti harus menempuh jarak lebih jauh demi mendapatkan beberapa jeriken air. Bagi petani, kemarau panjang dapat berarti tanaman layu sebelum dipanen dan pendapatan berkurang ketika lahan tak lagi produktif.

Air, yang selama ini mengalir tanpa banyak dipikirkan, tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Di sejumlah titik, sumur-sumur yang biasa menjadi tumpuan warga mulai mengering. Sementara kebutuhan rumah tangga tak pernah berhenti. Ketika persediaan menipis, warga harus mengatur air dengan cermat, untuk minum, memasak, mandi, dan kebutuhan lainnya.
“Sejak bulan Juni sumber sumur sudah mulai mengering. Andaikan ada, itu sedikit sekali. Jadi ya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari,” kata Suti, warga Dusun Gampeng, Desa Butoh, kepada SuaraBanyuurip.com saat ditemui ketika mengambil air bantuan di tandon samping rumahnya.
Hal serupa dirasakan Dai, warga Dusun Klumpang, Desa Sendangharjo. Pria berkulit sawo matang itu mengatakan, sumur-sumur di lingkungan tempat tinggalnya juga mengering akibat kemarau panjang.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga kini mengandalkan bantuan air bersih yang datang dari pemerintah maupun para dermawan.
“Setiap ada bantuan air, warga saling berbagi persediaan,” tuturnya.
Kekeringan juga meninggalkan dampak yang tak selalu terlihat. Ketika pertanian terganggu, aktivitas ekonomi masyarakat ikut melambat. Penghasilan berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi.
Di tengah kondisi itu, warga terus berupaya mencari cara untuk bertahan.
“Namun, di tengah tanah yang kering, kami selalu berupaya menemukan cara untuk bertahan. Dengan bekerja serabutan, yang penting dapat uang untuk kebutuhan keluarga,” ujar Dai, yang berdomisili di Rukun Tetangga (RT) 04 tersebut.

Sakidin, warga setempat lainnya menuturkan, bahwa kekeringan seolah kembali mengingatkan tentang arti pentingnya air. Bagi masyarakat, air bukan sekadar sumber daya, melainkan penyangga kehidupan.
“Karena ketika air berkurang, yang ikut dipertaruhkan bukan hanya hasil panen, melainkan keberlangsungan kehidupan masyarakat,” sambungnya.
Sore perlahan tiba. Matahari mulai turun di ufuk barat. Langit menyisakan semburat jingga, tetapi hujan yang dinanti belum juga jatuh.
Di tanah yang retak, beberapa warga duduk santai. Kepulan asap rokok sesekali keluar dari hidung. Pandangan mereka menerawang jauh, seolah berharap ada awan yang bergerak mendekat dan membawa kabar baik.
Bagi mereka, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Hujan adalah kesempatan untuk mengisi kembali sumur yang mengering, membasahi sawah yang retak, menumbuhkan tanaman, dan menghidupkan kembali penghidupan yang sempat terhenti.
Di tengah musim yang panjang dan tanah yang kehilangan air, mereka tetap menunggu. Sebab ketika langit akhirnya membuka kembali kerannya, yang turun bukan hanya hujan, tetapi juga harapan.
”Semoga saja segera turun hujan agar bisa kembali bercocok tanam dan kebutuhan keluarga berupa air tercukupi,” pungkas Sakidin.(sami’an sasongko)





