SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) dari Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur meningkatkan produksi telur ayam ras. Jika pada tahun 2024 produksi telur sebanyak 2.318 ton, saat ini naik 134 persen menjadi 5.444 ton.
Data yang diambil per bulan Mei 2026 itu, menunjukan kenaikan produksi terjadi seiring bertambahnya populasi ayam petelur. Jika sebelumnya populasinya 128.731 ekor, maka telah bertambah menjadi 645.963 ekor. Data program menyebut peningkatan populasi tersebut mencapai sekitar 401 persen.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bojonegoro, Elfira Nuraini, mengatakan, Program Gayatri merupakan upaya Pemkab Bojonegoro memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Selain juga untuk menambah penghasilan keluarga melalui usaha beternak ayam petelur.
Program tersebut menyasar 5.400 keluarga penerima manfaat (KPM), atau keluarga miskin produktif yang siap dan berkomitmen beternak. Mereka tersebar di 28 kecamatan dan 412 desa/kelurahan di daerah yang dipimpin Bupati Setyo Wahono dengan wakilnya Nurul Azizah itu.
Sebelum Gayatri digulirkan oleh putra daerah itu, produksi telur ayam ras di Bojonegoro belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Data program mencatat jumlah penduduk Bojonegoro sebanyak 1.341.259 jiwa, sedangkan kebutuhan telur mencapai 8.057 ton per tahun.
“Produksi telur ras pada 2024 hanya 2.318 ton per tahun,” kata Elfira Nuraini kepada SuaraBanyuurip.com, Rabu (30/9/2026).
Kondisi tersebut menyebabkan Bojonegoro mengalami defisit pasokan telur sebanyak 5.739 ton per tahun. Produksi lokal saat itu baru mampu memenuhi 28,74 persen kebutuhan telur masyarakat.
Untuk meningkatkan produksi sekaligus mendorong keluarga miskin memiliki usaha produktif, Pemkab Bojonegoro mengalokasikan anggaran Program Gayatri sebesar Rp87.164.760.000 (Rp87,1 miliar) yang bersumber dari APBD. Anggaran itu digunakan untuk mencapai target 5.400 KPM.
Bantuan yang diberikan kepada KPM meliputi 291.600 ekor ayam petelur, 10.800 unit kandang baterai, dan 2.160.000 kilogram pakan komplit.
Selain itu, KPM mendapatkan obat-obatan dan vaksin, di antaranya egg stimulant dan desinfektan. Bantuan juga dilengkapi bimbingan teknis dan training of facilitator (ToF) bagi KPM dan petugas.
Program Gayatri tidak hanya memberikan bantuan ternak. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan melalui bimbingan teknis, dan peningkatan kapasitas, serta kepercayaan KPM dalam menjalankan usaha peternakan.
Pelaksanaan program juga melibatkan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD), badan usaha milik daerah (BUMD), dan mitra terkait melalui kolaborasi dan sinergi.
“Populasi ayam petelur naik lima kali lipat setelah program Gayatri berjalan,” tegas Elfira.
“Peningkatan produksi ini membuat ketersediaan telur lokal semakin besar, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bojonegoro,” pungkas Elfira.(fin)





