SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro — Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disdagkop-UM), Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, memiliki strategi tersendiri dalam memasarkan telur hasil program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri). Upaya ini untuk memperluas akses pasar, sekaligus mendorong peternak menjual langsung kepada konsumen.
Program Gayatri merupakan program Pemkab yang bertujuan mendorong kemandirian ekonomi keluarga melalui usaha peternakan ayam petelur. Selain itu juga untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Kepala Disdagkop UM Bojonegoro, Ahmadi, mengatakan, dukungan pemasaran tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan bazar dan pameran, pelibatan peternak dalam operasi pasar, penyediaan stan di pasar daerah, serta memfasilitasi kerja sama dengan pedagang besar dan jaringan usaha.
Bazar dan pameran dapat menjadi sarana promosi bagi peternak yang ingin memperkenalkan telur hasil program Gayatri kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, peternak memiliki kesempatan untuk mengenalkan produk sekaligus menjangkau calon pembeli.
Selain itu, Disdagkop UM akan mendorong keterlibatan peternak lokal dalam kegiatan operasi pasar, dan Gerakan Pangan Mandiri. Dalam kegiatan tersebut, peternak dapat dilibatkan sebagai pemasok telur sehingga hasil produksinya bisa dijual secara tunai tanpa melalui perantara.
Langkah berikutnya, instansi ini menyiapkan fasilitasi stan di pasar daerah bagi peternak yang ingin menjual telur secara langsung kepada konsumen. Keberadaan lapak itu diharapkan dapat menjadi alternatif tempat pemasaran, dan lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Sehingga masyarakat lebih dekat dan lebih mudah membeli telur ayam,” kata Ahmadi kepada SuaraBanyuurip.com, Jumat (9/10/2026).
Menurut Ahmadi, lembaganya juga akan memfasilitasi komunikasi dengan pedagang besar dan jaringan usaha. Seperti, Sampoerna Retail Community (SRC), agar turut membantu memasarkan telur hasil program Gayatri melalui jaringan penjualan yang dimiliki.
Melalui empat strategi tersebut, Disdagkop UM berupaya membantu peternak memperluas jangkauan pemasaran, dan mengurangi ketergantungan pada perantara.
“Dengan begitu telur yang dihasilkan dari program Gayatri diharapkan memiliki akses pasar yang lebih luas dan dapat mendukung peningkatan pendapatan keluarga penerima manfaat,” ujarnya.
Sebelumnya Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini mengatakan, Program Gayatri diproyeksikan mampu menciptakan nilai produksi telur mencapai Rp306,26 juta per hari. Program yang menyasar 5.400 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) ini sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan harian bagi keluarga penerima.
Program Gayatri diprediksi menghasilkan 216.950 butir telur per hari atau setara 12.761 kilogram. Dengan nilai produksi mencapai Rp306.264.000 per hari, usaha ayam petelur tersebut diharapkan menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya keluarga penerima manfaat.
Dari sisi ekonomi keluarga, setiap KPM berpotensi memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per hari dari penjualan telur.
Artinya, program ini tidak hanya memberikan bantuan usaha, tetapi juga mendorong 5.400 keluarga miskin memiliki sumber pendapatan produktif yang dapat diperoleh secara harian.
Dampak ekonomi Gayatri juga terlihat dari peningkatan produksi telur daerah. Produksi telur ayam diproyeksikan meningkat dari 2.318 ton menjadi 5.444 ton atau bertambah sekitar 134 persen.
Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan populasi ayam petelur yang ditargetkan meningkat lebih dari lima kali lipat melalui program Gayatri.
Kenaikan produksi telur diharapkan turut mengurangi defisit telur di Kabupaten Bojonegoro. Pada saat yang sama, nilai produksi yang mencapai sekitar Rp306 juta per hari menjadi bagian dari perputaran ekonomi sektor peternakan.
Selain meningkatkan pendapatan keluarga penerima manfaat, program tersebut diharapkan memberikan efek ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja keluarga dan peningkatan kontribusi sektor peternakan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Di sisi lain, peningkatan produksi telur juga diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan sumber protein bagi masyarakat. Keluarga penerima manfaat tidak hanya mendapatkan peluang usaha produktif, tetapi juga diharapkan lebih mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Untuk menjaga keberlanjutan program, kami laksanakan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan peternakan dan kendala di lapangan,” pungkas Elfira.(fin)





