Gayatri Juara I Inovasi OPD Bojonegoro

Wabup Nurul Azizah
Wabup Nurul Azizah saat menyerahkan piagam Juara 1 BIA 2026 Kategori OPD kepada Kepala Disnakkan, drh. Catur Rahayu.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) meraih juara I kategori Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam Bojonegoro Innovative Award (BIA) 2026. Inovasi Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini mengintegrasikan pemberdayaan keluarga miskin produktif dengan peningkatan produksi telur ayam ras lokal.

Kepala Disnakkan Bojonegoro, drh Catur Rahayu, mengatakan, penghargaan tersebut merupakan hasil kolaborasi dan kerja keras seluruh jajaran dinas. Dia berharap capaian itu menjadi penyemangat untuk menjaga keberlanjutan program.

“Gayatri tidak hanya berhenti sebagai sebuah inovasi, tetapi harus berkelanjutan,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (29/10/2026).

Menurut Bu Catur, sapaan akrabnya, program tersebut sejalan dengan arahan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah untuk meningkatkan pendapatan keluarga penerima manfaat sehingga membantu menurunkan angka kemiskinan. Tujuan jangka panjangnya adalah memperkuat ketahanan pangan telur di Bojonegoro.

Melalui Gayatri, Disnakkan menyasar 5.400 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di 28 kecamatan dan 412 desa/kelurahan. Bantuan pelaksanaan 2025 meliputi 291.600 ekor ayam petelur, 10.800 unit kandang, dan 2.160.000 kilogram pakan komplit.

Penerima juga memperoleh bimbingan teknis, pelatihan bagi pelatih atau Training of Facilitators (ToF), obat-obatan, dan vaksin.

Baca Juga :   PDSI Berhasil Selesaikan Project Pengeboran Penting, Termasuk di Lapangan Minyak Banyu Urip Blok Cepu

Program tersebut dilatarbelakangi persoalan kemiskinan dan defisit pasokan telur lokal. Pada Maret 2024, persentase penduduk miskin Bojonegoro tercatat 11,69 persen. Sementara, kebutuhan telur ayam ras mencapai 8.057 ton per tahun, sedangkan produksi lokal hanya 996 ton, sehingga terjadi defisit sekitar 7.060 ton per tahun.

Sekretaris Disnakkan Bojonegoro, Elfia Nuraini, kala mempresentasikan Gayatri dalam rangkaian penilaian BIA 2026 memaparkan, program ini tidak hanya memberikan bantuan ternak, tetapi mendorong keluarga penerima memperoleh pendapatan rutin dari penjualan telur dan mengembangkan usaha peternakan secara mandiri.

drh. Catur Rahayu
Kepala Disnakkan Bojonegoro, drh. Catur Rahayu menerima piagam Juara 1 BIA 2026 kategori OPD melalui Program Gayatri.(istimewa)

Gayatri juga melibatkan pemerintah desa (pemdes), badan usaha milik desa (BUMDes), koperasi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan mitra lainnya untuk mendukung sarana produksi serta pemasaran telur lokal.

Pemantauan dilakukan berjenjang melalui pencatatan harian oleh KPM, monitoring bulanan oleh petugas teknis, dan evaluasi setiap tiga bulan oleh Tim Teknis Gayatri.

Tantangan pelaksanaan program meliputi kematian ayam, fluktuasi harga telur, kenaikan harga pakan, dan belum optimalnya penyerapan telur lokal. Solusi yang disiapkan antara lain surat edaran bupati tentang penyerapan telur lokal, akses jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog seharga Rp5.000 per kilogram, serta koordinasi dengan Dinas Perdagangan, BUMD Pangan Mandiri, dan SPPG untuk mendukung penyerapan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca Juga :   Tour Ziarah Wali se Jatim, IPHI Gayam Dukung dan Doakan Paslon Nomor 02 Wahono-Nurul 

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Bojonegoro, Dilli Tri Wibowo, menjelaskan BIA berlandaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah.

Dalam penilaian kategori OPD, Gayatri menempati peringkat pertama dengan skor tertinggi dibandingkan nominator lainnya serta dinilai mendukung lima prioritas tematik pembangunan, termasuk pengentasan kemiskinan, penurunan angka pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi.

BIA 2026 diselenggarakan sejak tahapan sosialisi pada Juli tahun ini sampai penyerahan penghargaan di bulan Oktober. Terdapat enam kategori dalam lomba, yakni OPD, kecamatan, pemerintah desa/kelurahan, masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa, serta badan usaha.

Penilaian BIA mencakup seleksi administrasi dan substansi, presentasi dan wawancara, serta peninjauan lapangan. Aspek penilaian meliputi relevansi inovasi, manfaat bagi masyarakat, efektivitas, potensi replikasi, keberlanjutan, dan dukungan regulasi.

“Pada kategori OPD, juara kedua diraih inovasi Sintesa Emas dari Dinas Kesehatan, sedangkan juara ketiga diraih Amanda Bangga dari Bagian Pembangunan,” terang Dili.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait