SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Telur hasil peternakan masyarakat dari Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) di Kabupaten Bojonegoro, berpeluang akan terserap dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sedangkan Badan Gizi Nasional (BGN) memiliki program mendorong penyerapan telur peternak lokal, untuk memenuhi kebutuhan menu MBG.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, Elfira Nuraini, menyebut kebijakan BGN menyerap telur ayam peternakan lokal menjadi peluang bagi peternak penerima manfaat program Gayatri untuk memperluas pemasaran telur yang dihasilkan.
Dorongan penyerapan telur lokal itu tertuang dalam Surat Edaran Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN Nomor: SE/01/06/V/2026 tentang Dukungan Penyerapan dan Peningkatan Frekuensi Menu Makan Bergizi Gratis Berbasis Telur.
Dalam surat edaran tertanggal 12 Mei 2026 tersebut, BGN mengarahkan agar pengadaan telur konsumsi memprioritaskan peternak atau pelaku usaha perunggasan lokal di sekitar wilayah operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
BGN juga mendorong peningkatan frekuensi menu berbasis telur dalam siklus menu mingguan SPPG, terutama ketika terjadi surplus produksi dan pelemahan harga di tingkat peternak.
Selain itu, SPPG diimbau membeli telur sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) yang berlaku, dan tidak melakukan pembelian di bawah harga acuan pemerintah.
“Kebijakan ini membuka peluang bagi peternak Gayatri untuk memasok telur ke pasar yang lebih luas, sekaligus mendukung keberlanjutan usaha peternakan ayam petelur di Bojonegoro,,” kata Elfira Nuraeni kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (12/10/2026).
Dikonfirmasi secara terpisah, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Bojonegoro, Tommy Mandal Putra belum memberikan tanggapan hingga berita ini ditayang.
Diwartakan sebelumnya, dengan nilai produksi mencapai Rp306.264.000 per hari, usaha ayam petelur tersebut diharapkan menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi masyarakat. Khususnya keluarga penerima manfaat dari program Gayatri.
Program Gayatri diproyeksikan mampu menciptakan nilai produksi telur mencapai Rp306,26 juta per hari. Nilai produksi itu dihasilkan dari 216.950 butir telur per hari atau setara 12.761 kilogram.
Program yang menyasar 5.400 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) ini sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan harian bagi keluarga penerima. Dari sisi ekonomi keluarga, setiap KPM berpotensi memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per hari dari penjualan telur.
Program ini tidak hanya memberikan bantuan usaha, tetapi juga mendorong 5.400 keluarga miskin memiliki sumber pendapatan produktif yang dapat diperoleh secara harian.
Dampak ekonomi Gayatri juga terlihat dari peningkatan produksi telur daerah. Produksi telur ayam diproyeksikan meningkat dari 2.318 ton menjadi 5.444 ton atau bertambah sekitar 134 persen.(fin)





