SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro- Perkembangan industrialisasi minyak dan gas bumi (Migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai dirasakan masyarakat luas. Selain berkembangnya proyek pembangunan disektor jasa, juga perdagangan.
Kondiisi itu semakin meningkatkan perekonomian warga yang berdampak pada perubahan gaya hidup. Kendaraan angkutan umum mulai terpinggirkan, banyak beralih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor bahkan mobil.
Kepala Bidang Perhubungan Darat Dinas Perhubungan, Moch Khosim, mengatakan, peningkatan jumlah kendaraan dari tahun 2013 ini naik dibanding tahun 2012 lalu. Dari data yang ada, jumlah kendaran yang melintas saat ini berkisar 1000 kendaraan.
“Tahun lalu bekisar 500 kendaraan,â€pungkasnya.
Naiknya jumlah kendaraan tersebut, sangat berpotensi menimbulkan macet. Oleh sebab itu mulai difikirkan untuk membuat alternatif agar pada jam-jam sibuk, arus lalu lintas lancar dengan membuat jalan lingkar.
“ Sekarang ini semua jenis kendaraan,terutama kendaraan truk pengangkut material bangunan,maupun truk dari Pertamina yang mengangkut minyak mentah selalu melewati kota atau Bundaran Adipura di Jalan Untung Suropati,†jelasnya.
Semua kendaraan tersebut selalu melewati jurusan Bojonegoro- Surabaya ataupun Bojonegoro-Cepu dan pasti melalui jalan kota,terlebih dengan adanya pengembangan migas harus ada jalan alternatif sehingga tidak semua kendaraan tersebut khususnya untuk roda 4 atau lebih tidak masuk kota.
“Oleh karenanya ada Jalan Lingkar yaitu jalan untuk jalan alternatif untuk memecah arus,â€tandas Chosim.
Dia menambahkan, jalan lingkar tersebut bisa melalui Kecamatan Kapas ke selatan menuju Kecamatan Temayang , lalu menuju barat di Kecamatan Dander. Harapannya bisa mengurai arus kendaraan yang mulai padat.
“ Wacana tersebut akan kami lakukan uji kelayakan terlebih dahulu,sehingga belum bisa langsung dipraktekkan,â€imbuhnya.
 Terpisah, Kasalantas Polres Bojonegoro, AKP Oscar Syamsudin, menilai, jumlah kendaraan di Bojonegoro masih terbilang wajar. Meskipun ada kenaikan namun tidak bisa dikatakan signifikan. Itu terlihat dari kelancaran arus lalu lintas disepanjang jalan utama.
“Meskipun sekarang ada pengembangan proyek migas,namun jumlah kendaraan belum ada kenaikan secara signifikan,apalagi dikatakan macet,â€sambung Oscar.
Dijelaskan, untuk kemacetan yang terjadi di wilayah Bojonegoro diperkirakan baru terjadi pada 10-20 tahun mendatang,dimana tingkat ekonomi masyarakat sudah mengalami perubahan. Meskipun begitu,pihaknya akan mengantisipasi jika memang jumlah kendaraan sudah tidak bisa dikendalikan.
“ Ya pasti,kalau untuk antisipasi itu ada,kalau sekarang kami hanya melakukan himbauan kepada para kontraktor migas agar mengoperasikan kendaraan menghindari jam-jam sibuk. Dan jika ada kendaraan berat yang melintas,kami akan melakukan pengawalan,†tegas Oscar. (rien)



