Awal 2023, Produksi Gas JTB Baru Capai 75 MMSCFD

Produksi gas JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, baru mencapai 75 MMSCFD dari target 192 MMSCFD.

Suarabanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Produksi gas Jambaran – Tiung Biru (JTB) hingga pertengahan Januari 2023 ini baru mencapai sekitar 70 – 75 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD) sejak gas on stream (GoS) pada 20 September 2022 lalu. Sementara produksi penuh lapangan gas yang terletak di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini ditargetkan bisa mencapai 192 MMSCFD.

“Produksi sales gas dari JTB saat ini sekitar 40 persen dan terus dalam proses peningkatan kapasitas,” ujar Pjs. General Manager Gas Project JTB Agung Prabowo dalam keterangan tertulisnya saat bertemu pejabat Ditjen Migas belum lama ini.

Ada enam sumur produksi di Lapangan Gas JTB. Setiap sumur mampu menghasilkan gas sebesar 60 MMSCFD. Total produksinya bisa mencapai 330 MMSCFD.

Namun dari jumlah tersebut yang bisa diproduksi menjadi gas bersih dari Lapangan JTB sebesar 192 MMSCFD. Produksi ini bisa bertahan hingga tahun 2035 memdatang.

Baca Juga :   Flaring Pad A Sukowati Akan Dikaji Ulang

Dari produksi JTB 192 MMSCFD itu sebanyak 170 MMSCFD telah dibeli oleh PGN dan PLN dengan harga US$6,1 per MMBTU (Million British Thermal Unit). Harga ini berlaku hanya untuk tahun 2022 – 2024.

Sementara sisanya 20 MMSCFD kemungkinan besar akan dibeli oleh Petro Kimia Gresik. Tapi untuk kepastiannya masih menunggu persetujuan final dari Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral).

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto sebelumnya menyampaikan, JTB diproyeksikan menjadi salah satu calon penghasil gas terbesar di Indonesia dengan produksi 192 MMSCFD.

Menurut Dwi, proyek gas JTB telah turut menggerakan industri penunjang nasional maupun pengusaha lokal serta perekonomian masyarakat di sekitar proyek, sehingga keberadaan proyek JTB sangat dirasakan bagi upaya peningkatan kapasitas nasional dukungan berkembangnya ekonomi disekitar proyek.

“Aspek positif lain dari keberhasilan proyek ini adalah terpenuhinya kebutuhan energi kawasaan dan ketersediaan bahan baku industri untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Dwi.

Mantan Direktur Utama Pertamina itu menjelaskan, proyek gas JTB akan memberikan ketersediaan gas di Pulau Jawa yang besar sehingga dapat mendorong peningkatan perekonomian baik secara regional maupun nasional. Seiring dengan pembangunan pipa gas Semarang – Cirebon maka jalur distribusi gas akan terintegrasi sehingga pasokan gas dari JTB nantinya tidak hanya dimanfaatkan oleh sektor indsutri di Jawa Timur dan Jawa Tengah, namun berperan pula bagi pemenuhan kebutuhan gas hingga Jawa Barat.

Baca Juga :   Program "Mampir", Cara Rekind Membangun Komunikasi untuk Sukseskan Proyek Gas JTB

“JTB ini dapat mendukung upaya mewujudkan target peningkatan produksi migas nasional di tahun 2030 yaitu produksi minyak 1 juta barel dan gas 12 BSCFD,” tegas Dwi.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *