Seberkas Harapan Petani Pinggiran

Petani pinggiran hutan Sri Kanti sedang sibuk beraktivitas memanen kacang tanah di lahan pertaniannya.

Berat dan susah hidup sebagai petani untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tak mengenal lelah dalam mengolah lahan pertanian. Seberkas harapan agar pemerintah mampu menentukan kebijakan harga stabil dari hasil panen petani yang acap kali naik turun.

PADA suatu siang menjelang sore petani pinggiran hutan sibuk beraktivitas memanen kacang tanah. Terik matahari yang serasa memanggang tubuh tak membuatnya bergeming demi mencukupi kebutuhan hidup.

Sri Kanti dan Kiswati, misalnya. Hanya berbekal Caping terbuat dari anyaman bambu yang sudah kusam menjadi satu – satunya tempat berteduh dalam memanen kacang tanah.

Sambil jemari tangannya memegang pisau kecil untuk memilah kacang tanah, petani Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Kebupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu menuturkan, tak semudah membalik telapak tangan hidup sebagai petani. Perjalanan untuk sampai panen tak segampang yang dibayangkan banyak orang. Sebab butuh waktu yang cukup lama.

Mulai dari mengolah lahan, penanaman bibit, dan lain sebagainya. Apalagi ditambah dengan acap kali sulit mendapatkan pupuk, jikapun ada harganya cukup tinggi. Belum lagi jika ada serangan hama, harus melakukan penyemprotan berkali-kali agar tidak gagal panen.

Baca Juga :   Mahalnya Biaya, Ali Mukti Pilih Putus Sekolah

“Butuh waktu dua bulan lebih baru bisa memanen. Belum lagi ditambah harga hasil panen tidak stabil, cenderung naik turun. Tentu membuat hasil yang didapat tak sesuai harapan,” ujar Kanti kepada SuaraBanyuurip.com.

Sembari sesekali mengusap keringat diwajahnya, wanita berkulit sawo matang ini mengaku, sekalipun harga hasil panen naik turun tak melumpuhkan semangatnya dalam menjalani kehidupan sebagai petani, dan akan terus digeluti meskipun berat.

Kiswati dan keluarga sedang memanen kacang tanah di pinggiran hutan.
© 2023 suarabanyuurip.com/Sami’an Sasongko

“Untuk harga naik turun. Saat ini dari tengkulak harga kacang tanah basah ada kenaikan per kilogram (Kg). Dari sebelumnya Rp4,500 per Kg, sekarang jadi Rp5000 per Kg. Sehari hanya dapat membawa pulang kacang tanah tiga sak ukuran 50 Kg,” katanya.

“Untuk bobot kacang tanah dalam satu saknya variatif. Ada yang sampai 15 Kg dan ada juga yang kurang. Barapapun hasil yang didapat tetap saya syukuri saja. Terpenting tidak merugikan orang lain,” pungkasnya.

Segendang seirama diungkapkan Kiswati. Wanita berperawakan kurus ini mengaku, harga jual panen petani yang cenderung naik turun memang membuat hasil yang didapat tak sesuai harapan.

Baca Juga :   Membangun Impian di Lereng Gunung Pandan

“Saya jualnya kering. Tapi tenaganya bertambah. Karena harus mengeringkan selama empat hari. Itu kalau cuacanya mendukung. Kalau kondisi hujan ya bisa lebih empat hari. Untuk harga kacang tanah kering dari semula Rp 9.000 per Kg, sekarang menjadi Rp10.000 lebih per Kg,” ujarnya.

Dia berharap, agar pemerintah dan terkait mampu mengambil kebijakan yang berpihak kepada rakyat, khususnya petani. Yakni harga yang stabil untuk semua hasil panen petani. Sehingga hasil yang didapat meningkat dan perekonomian para petani pun bisa terangkat.

“Semoga saja selain stabilkan harga, pemerintah juga memudahkan petani dalam mencukupi kebutuhan pertanian. Seperti pupuk dan lainnya mudah didapat dan harganya tidak mahal. Dengan begitu maka perekonomian para petani bisa meningkat,” imbuhnya.(Samian Sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *