Memungut Sampah Jadi Rupiah

Sumadi pemulung
PEMULUNG : Sumadi sedang memungut kertas bungkus makanan dan kardus di halaman Pendapa lama Kecamatan Ngasem.

Seribu macam cara manusia bisa mendapatkan rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tak harus menjadi pejabat, memungut sampah pun bisa jadi rupiah.

SUASANA di sekitar wilayah proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) siang itu tampak cerah. Gumpalan awan tipis merangkak perlahan digendong angin. Mentari timbul tenggelam dijilat gugusan awan.

Terik siang kali ini serasa mengiris kulit. Tampak lelaki kurus berkaos merah tua bertopi kusam ini sibuk memungut barang bekas (sampah) di halaman pendapa lama Kecamatan Ngasem. Dia adalah Sumadi (68), warga Dusun Sendanggerong, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngasem, Kebupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Pemulung ini mencoba bertarung di tengah panasnya musim kemarau.

Tak menghiraukan hawa panas yang menembus kulit, pria lanjut usia ini begitu cekatan dalam mengumpulkan barang bekas. Seperti botol minuman, kertas bungkus makanan dan lainnya untuk dimasukkan ke dalam karung kusam di keranjang di atas sepeda onthelnya.

Menggeluti profesi sebagai pemulung, kata Mbah Di, begitu dia karib disapa, sudah menjadi pilihan hidup. Ibaratnya mengais rejeki dari sisa peluh pedagang di Pasar Desa Ngasem.

Baca Juga :   Indonesia dan Singapura Tanda Tangani MoU Kerja Sama Energi Rendah Karbon

“Saya berangkat memulung dari rumah sekitar jam 08.00 pagi, Pak. Untuk pulangnya gak pasti, kadang masih siang sudah pulang kalau mulungnya dekat seperti di Pasar Ngasem. Tapi kalau lokasinya jauh, seperti di Ngambon, Purwosari dan Kalitidu, sampai rumah juga sore,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com.

Samudi pemulung
Usai memasukkan barang bekas ke dalam karung di atas onthel, Sumadi bergegas melanjutkan perjalanan ke tempat lainnya.

“Saya juga sering melakukan aktivitas memulung di sekitar lokasi proyek gas JTB. Bahkan dulu saat tenaga kerja masih banyak, sehari bisa dua kali mulung di sana, tapi sekarang jarang kesana lagi karena sudah sepi,” lanjutnya.

Bapak dari dua anak ini menjelaskan, barang bekas yang diperoleh tidak langsung dijual ke pengepul. Namun dikumpulkan dulu di rumah menunggu mendapatkan barang banyak. Sehingga saat dijual hasil yang didapat banyak pula.

“Lima hari sekali baru saya jual. Kalau berapa kwintalnya lupa, tapi kalau uang yang saya dapat Rp 1 juta lebih sekali setor. Jualnya kadang ke pembeli di Dander kadang juga di Kalitidu, Pak,” terangnya.

Bekerja sebagai pemulung sudah dilakukannya sejak usia 25 tahun hingga sekarang. Sehingga, sudah tidak kaget lagi meskipun harus menempuh perjalanan jauh, kepanasan bahkan kehujanan sekalipun.

Baca Juga :   ASN KESDM Ikuti Pelatihan Inspektur Pesawat Angkat di PPSDM Migas

“Sudah terbiasa menempuh perjalanan jauh dan kepanasan, pun kehujanan. Jadi tidak kaget lagi meski cuaca panas seperti ini dalam mengais rezeki,” ucap pria berkulit sawo matang.

Dia akui, menjadi seorang pemulung terpaksa harus dilakukan, karena merupakan salah satu cara untuk membuka lapangan kerja sendiri. Dia tidak memiliki pekerjaan lain, hanya pemulung inilah yang harus dilakoni untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Mau kerja apalagi sawah dan ladang tidak punya, mending menekuni jadi pemulung tidak apa-apa,” imbuhnya.

Disadarinya, selain usia sudah tua, kedua anaknya juga sudah menikah. Sehingga aktivitas memulung mulai berkurang tidak seperti dulu. Di sisi lain, dia juga bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang didapatnya dari menggeluti profesi sebagai pemulung selama ini.

“Saya bersyukur dengan rejeki yang saya dapat, meskipun jadi seorang pengumpul barang bekas. Yang penting halal tidak merugikan orang lain,” tandasnya. (samian sasongko)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *