Sebut Suhu Panas Sekitar Ladang Migas Blok Cepu Meningkat

Flare Banyu Urip membesar.
Flare proyek ladang minyak Banyu Urip, Blok Cepu, di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang membesar.

SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko

Bojonegoro – Suhu panas sekitar ladang minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu, di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur meningkat. Peningkatan suhu tersebut cukup dirasakan warga yang berdomisili dekat lokasi flare yang dua hari ini mulai membesar. Hal tersebut diungkapkan oleh Sucipto, warga Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.

Menurut Sucipto, bahwa suhu panas yang biasanya 34 derajat celcius kini menjadi 37 sampai 38 derajat celcius yang jauh dari flare. Sedangkan yang dekat flare kadang kala mencapai 40 derajat celcius.

“Saya menduga meningkatnya suhu panas ini juga tak lepas dari flare yang membesar. Beruntung beberapa hari ini turun hujan jadi lumayan berkurang. Waktu belum turun hujan suhu panas biasanya sampai 40 lebih derajat celcius,” kata Sucipto kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (14/11/2023).

Warga desa ring satu ladang migas Blok Cepu ini berharap, agar operator Blok Cepu ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memperhatikan keluhan warga yang terdampak. Karena selain merasakan peningkatan suhu panas, juga dampak bising yang ditengarai dari suara gemuruh flare pada malam hari. Sehingga membuat mereka kurang nyaman dalam beristirahat.

Baca Juga :   Investasi Hulu Migas 2024 Diperkirakan Capai US$ 17,7 Miliar, SKK Migas : 40% dari Perusahaan Asing

“Perhatiannya bisa berbentuk kompensasi terhadap warga terdampak, dan tentunya harus berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Desa Mojodelik,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa (Kades) Mojodelik, Yuntik Rahayu mengaku, bahwa keluhan warga yang terganggu suara gemuruh utamanya yang dekat lokasi flare sudah disampaikan ke pihak perusahaan.

“Untuk keluhan warga sudah langsung saya sampaikan,” ujar Yuntik Rahayu.

Humas dan Juru Bicara EMCL, Rexy Mawardijaya menyampaikan, produksi dari Lapangan Banyu Urip menjadi andalan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan minyak nasional. Karena itu, EMCL sebagai operator, melakukan berbagai upaya agar produksinya bisa sesuai target.

Sebab, lanjut Rexy, produksi di Lapangan Minyak Banyu Urip sekarang ini terus mengalami penurunan. Namun, ada beragam upaya yang bisa dilakukan agar produksinya stabil sesuai target. Mulai dari menjaga kinerja sumur, hingga penambahan sumur baru.

Untuk menjaga kinerja sumur lapangan Banyu Urip, kata Rexy, EMCL melakukan pemeliharaan terhadap alat-alat dan membuat terobosan-terobosan teknologi agar mampu memaksimalkan potensi.

“Dalam rangka menjaga operasi tetap aman dan andal pada Fasilitas Pemrosesan Pusat (CPF) Lapangan Banyu Urip, EMCL melakukan pemeliharaan fasilitas sejak tanggal 12 November 2023 hingga beberapa hari kedepan,” ucap Rexy kepada suarabanyuurip.com, Selasa (14/11/2023).

Baca Juga :   Produksi Blok Cepu Turun Lebih Cepat, Menteri ESDM Minta EMCL Cari Solusi

Rexy menyampaikan, bahwa masyarakat tidak perlu khawatir. Kata dia, EMCL akan selalu melakukan pemantauan yang ketat untuk memastikan bahwa kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik sehingga aman bagi masyarakat dan lingkungan.

“EMCL memastikan proses pemeliharaan akan berjalan dengan aman dan andal dengan melakukan pengukuran kualitas udara secara seksama,” imbuhnya.

EMCL juga terbuka kepada masyarakat dan media apabila ada pertanyaan, membutuhkan informasi, atau menyampaikan keluhan.

“Apabila ada pertanyaan seputar kegiatan pemeliharaan ini, harap menghubungi P&GA EMCL di nomor bebas pulsa atau kirim pesan,” papar Rexy.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *