SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Berproduksinya lapangan unitisasi gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, telah menambah pundi-pundi pendapatan bagi Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Jumlah dana bagi hasil (DBH) gas bumi yang sudah tersalur sebesar Rp 4,4 miliar dari alokasi Rp 11 miliar.
Sedangkan DBH minyak bumi untuk Bojonegoro sudah tersalur Rp 773 miliar, dari target Rp 1,9 triliun.
“DBH minyak bumi masih sisa sekitar Rp 1,1 triliun yang belum ditransfer, kemudian untuk DBH gas bumi masih sisa sekitar Rp 6,6 miliar,” kata Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Bojonegoro Teguh Ratno Sukarno.
Dia mengatakan, total penyaluran DBH minyak dan gas (migas) di Bojonegoro sudah mencapai sekitar 40 persen dari alokasi anggaran pendapatan belanja nasional (APBN). Kekurangan DBH migas tersebut nantinya bakal ditransfer kembali sesuai jadwal dari pemerintah pusat.
“Masih ada pencairan lagi, karena baru semester pertama,” katanya, Selasa (3/6/2025).
Teguh, sapaan akrabnya, mengungkapkan, DBH migas untuk Kabupaten Bojonegoro telah disalurkan tiga kali. Rinciannya penyaluran pertama DBH minyak bumi sebesar Rp 193,2 miliar, dan Rp 1,1 miliar gas bumi pada 31 Januari 2025.
Kemudian, DBH minyak bumi sekitar Rp 289,9 miliar dan Rp 1,6 miliar gas bumi disalurkan pada 24 Maret 2025 lalu. Selanjutnya, DBH minyak sebesar Rp 289,9 miliar dan Rp 1,6 miliar gas bumi disalurkan Rabu (28/5/2025) kemarin.
“Total DBH minyak bumi yang diterima Bojonegoro sekitar Rp 773 miliar. Sementara untuk Rp 4,4 miliar untuk DBH gas bumi yang telah disalurkan per Rabu (28/5/2025) atau akhir Mei kemarin,” jelasnya.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri mengatakan, transfer DBH migas sekitar Rp 292 miliar otomatis membuat pendapatan Bojonegoro semakin gemuk.
“Namun di sisi lain DBH Migas bisa menambah sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa) tahun 2025 ini,” katanya.(jk)





