Bojonegoro Jangan Bergantung Migas, Ekonom Unigoro: Investasi Swasta Bisa Garap Sektor Lain

Ekonom Unigoro, Moh. Saiful Anam.
Ekonom Unigoro, Moh. Saiful Anam.

SuaraBanyuurip.com – Pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Bojonegoro masih didominasi dari sektor minyak bumi dan gas (migas). PAD Migas tahun 2025 ini ditargetkan mencapai Rp 2 triliun lebih. Terdiri dari dana bagi hasil minyak Rp1,93 triliun, dan DBH Gas Rp 11 miliar.

Ekonom Universitas Bojonegoro (Unigoro), Moh. Saiful Anam menilai, masih ada potensi PAD dari sektor-sektor lainnya yang harus digarap serius mulai saat ini. Mengingat industri di sektor migas tidak akan berlangsung lama.

“Migas ini kan tak terbaharukan, jadi suatu saat pasti akan habis,” ujarnya, Jumat (18/7/2025).

Menurut Anam, ada potensi lain selain migas yang bisa optimalkan untuk meningkatkan PAD Bojonegoro. Di antaranya sektor pertanian modern dan agroindustri, pariwisata, industri kreatif dan UMKM, perikanan dan peternakan karena Bojonegoro punya pasokan air melimpah dari Bengawan Solo maupun sumber air di daerah selatan, serta jasa layanan pendidikan dan kesehatan.

“Harus ada sistem pemetaan potensi wilayah secara detail. Agar bisa mendorong investasi swasta untuk menggarap sektor tersebut,” terangnya.

Baca Juga :   Bojonegoro Terima DBH Migas Rp 94,1 Miliar di Awal 2026

Anam menjelaskan, Bojonegoro memiliki lahan pertanian luas dan subur. Bahkan, menjadi salah satu penyumbang beras terbesar nomor tiga setelah Lamongan dan Ngawi. Hilirisasi melalui agroindustri atau pengolahan hasil pertanian otomatis akan menambah nilai jual. Sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

“Income dari sektor pertanian mungkin selama ini belum bisa dirasakan secara optimal. Karena belum bisa mengolaborasikan antara pertanian, ilmu pengetahuan, dan teknologi industri,” tuturnya.

Akademisi asal Dander ini meneruskan, Pemkab Bojonegoro saat ini tengah fokus mengembangkan Geopark Bojonegoro. Situs-situs geosite, biosite, dan culture site diproyeksikan menjadi wisata berbasis masyarakat atau community based tourism. Pengelolaan wisata oleh masyarakat setempat juga menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, sektor jasa layanan pendidikan dan kesehatan harus diberi atensi khusus. Mengingat masyarakat yang mengakses kedua layanan tersebut tidak hanya dari Bojonegoro.

“Data menunjukkan, warga dari Kabupaten Tuban seperti Jatirogo, Soko, Parengan, dan sekitarnya justru percaya pada layanan kesehatan di RSUD Bojonegoro. Jika ini bisa dikembangkan sesuai dengan misi pemerintah untuk meningkatkan akreditasi RS dari B menjadi A, juga akan jadi daya tarik luar biasa dan menambah income,” papar Anam.

Baca Juga :   Dapat Tambahan DBH Migas Rp860 Miliar, DPRD Bojonegoro Minta Dibelanjakan

Ada dua rekomendasi strategi yang bisa diaplikasikan Pemkab Bojonegoro untuk menambah PAD selain dari sektor migas. Yakni pemetaan potensi wilayah secara detail dan mendorong investasi swasta.

“Contohnya untuk membentuk agroindustri, kita petakan mana kecamatan yang komoditas pertaniannya tinggi dan memiliki jalur transportasi yang memadai. Mengapa investasi penting? Dalam konsep pembangunan, kita tidak bisa lepas dari investasi. Untuk menarik investor ada dua pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, membangun infrastruktur untuk fasilitas operasional logistik. Kedua, menekan biaya pekerja dari segi UMR (upah minimum regional),” tandas Kaprodi Ekonomi Pembangunan Unigoro.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait