Rumah Batik Ringintunggal di Ladang Migas Blok Cepu Terkendala Pemasaran

Rumah Batik Ringintunggal.
Iswatun Khasanah menunjukan hasil produksi batik Rumah Batik Ringintunggal.

Suarabanyuurip.com – M. Alamsyah Syarifudin

Bojonegoro – Rumah Batik Ringintunggal, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih tetap eksis. Sejak beridiri 2017 silam, rumah batik di ladang minyak Banyu Urip, Blok Cepu, bukan sekadar memproduksi batik Jonegoroan, khas Bojonegoro, tapi juga mampu mengembangkannya menjadi wisata edukasi.

Bertahnnya Rumah Batik Ringintunggal ini tidak lepas dari kegigihan Iswatun Khasanah.
Walau tergerus oleh perkembangan zaman dan juga permintaan pasar, Iswatun-demikian disapa, terus berinovasi dalam pembuatan batik miliknya. Produksk batiknya sampai saat memiliki beragam motif.

Motif batik Jonegoroan yang diproduksi mulai dari daun tembakau, bunga rosela hingga daun pohon jati. Semua tak lepas dari potensi yang ada di Bojonegoro.

“Di sini ada 10 motif batik yang diproduksi,” kata Iswatun membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com, Selasa (24/6/2025).

Iswatun bercerita awal mula merintis kerajinan batik pada tahun 2017. Saat itu ada lomba desain motif batik di Kecamatan Gayam yang diselenggarakan oleh operator lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama lembaga non pemerintah, Ademos.

Baca Juga :   Merajut Masa Depan di Rumah Disabilitas Bojonegoro

“Waktu itu kami juga mendapar pelatihan. Pelatihannya ada di Desa Begadon. Dari 60 peserta yang mengikuti lomba, terpilih hanya 20 peserta. Salah satunya saya. Dari situ awal mula saya merintis usaha batik,” kenangnya.

Perjalanan Iswatun menekuni usaha batik tidak mulus. Terlebih saat itu dirinya belum mahir membatik. Namun, Iswatun terus mengasah kemampuan batik capnya dan berinovasi dengan pendampingan EMCL dan Ademos. Mulai dari cara membatik, mememasarkannya, hingga mengelola manjamen.

Rumah Batik Ringintunggal.
Rumah Batik Ringintunggal menjadi wisata edukasi para pelajar untuk belajar membatik.

Rumah Batik Ringintunggal tidak hanya memproduksi batik. Tapi dikembangkan menjadi wisata edukasi. Anak TK, pelajar SD, dan SMP belajar cara membatik di rumah batik Ringintunggal.

“Kita juga mengenalkan kepada anak-anak jika batik ini adalah bagian kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.

Iswatun menyampaikan, penjualan produksi batiknya tidak setiap hari, sehingga proses pembuatannya tergantung permintaan pasar. Jika stoknya masih banyak, produksinya berhenti dulu.

“Beda kalau memang ada permintaan kostum atau seragam. Dan paling banyak kami stok 200 potong,” tuturnya.

Baca Juga :   KPM Program Gayatri Bojonegoro Mulai Menikmati Hasil

Menurut Iswatun, masalah pemasaran menjadi kendala rumah batik Ringintunggal, karena penjualannya hanya dilakukan offline dan online melalui shopee.

“Sehingga belum bisa maksimal,” ucap perempuan berhijab ini.

Omset penjualan batik rumah batik Ringintunggal setiap bulan Rp 1,5 juta. Sedabgkan dari wisata edukasi Rp 2 juta setiap bulan.

“Untuk pekerja batiknya ada 2 orang. Kalau wisatanya ada 9 orang. Tapi itu nggak bebarengan ikut semua, tergantung jumlah pengunjung juga,” jelasnya.

Iswatun berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro membantu pemasaran agar omset penjualan batik meningkat dan rumah batik Ringintunggal bisa berkembang. Sehingga dapat memberikan peluang ekonomi dan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

“Juga pengunjung wisata edukasinya meningkat,” pungkasnya.(lam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *