Eksplorasi Minyak di Bawah Alun-alun Bojonegoro Terkendala Lahan Sawah Dilindungi

FOTO ILUSTRASI : Pengeboran sumur migas Sukowati Pad B di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas. Sementara pengembangan migas Pad C di Desa Banjarsari belum jelas kapan dimulai.

SuaraBanyuurip.com – Pengeboran sumur migas Pad C Lapangan Sukowati, Blok Tuban, di Dusun Karang, Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tampaknya, akan membutuhkan proses panjang. Padahal potensi minyak di sumur ini mencapau 3 juta berel.

Penyebabnya, pembangunan tapak sumur yang akan digunakan untuk menyedot minyak di bawah pendapa pemerintah kabupaten (pemkab) dan Alun-alun Bojonegoro, berada di Lahan Sawah Dilindungi (SLD) dan area Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Pengembangan sumur migas Pad C membutuhkan lahan sekitar 4 hektar (Ha). Ada 23 pemilik lahan yang sebelumnya terdata terdampak. Lahan tersebut merupakan sawah produktif yang berada dekat sungai Bengawan Solo.

Sumur migas Pad C Lapangan Sukowati dikelola oleh Pertamina EP Sukowati Zona 11. Sumur ini merupakan pengembangan dari Pad A Sukowati di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro dan Pad B di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, yang saat ini sudah produksi.

Berdasarkan studi awal yang pernah dilakukan Pertamina EP Sukowati, sumur migas Pad C di Desa Banjarsari memiliki cadangan minyak 1 sampai 3 juta barel. Dengan produksi harian 4 ribu hingga 5 ribu barel per hari (bph) dari sembilan sumur. Usia produksinya 7 sampai 8 tahun.

Pengembangan migas Pad C Sukowati diperkirakan menelan investasi awal sebesat US$ 16 juta atau setara Rp 231 miliar. Sesuai rencana awal, teknis pengeboran dilakukan miring dari Dusun Karang sejauh sekitar 1,5 kilometer. Pipa akan ditanam di bawah Sungai Bengawan Solo dengan kedalaman sekitar 30 meter. Pengeboran pipa berada di kedalaman sekitar 10.000 MD atau bawah tanah.

Baca Juga :   Pertamina Regional 4 Akan Digugat ke PTUN

Senior Manager Relation Regional 4 Indonesia Timur,, Sigit Dwi Aryono mengatakan, belum ada rencana pengembangan sumur migas Pad C Lapangan Sukowati, karena lahan yang direncanakan untuk pembangunan tapak sumur merupakan SLD dan LP2B.

“Untuk pembebasan lahan proses izinnya panjang, sampai Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Pertanian,” kata Sigit di sela-sela menghadiri SHU Eco- Vation Day dalam rangkaian program Sekolah Energi Berdikari (SEB) di SMPN 1 Ngasem, Jumat, 19 Desember 2025 pekan lalu.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan di lapangan Sukowati sekarang ini adalah eksplorasi sumur-sumur yang sudah ada untuk menjaga produksi.

“Kita maksimalkan sumur-sumur yang sudah ada,” tegasnya.

Kepala Departemen Pertanahan SKK Migas, Erie Yuwono sebelumnya mengungkapkan, alih fungsi lahan pertanian menjadi salah satu tantangan dalam kegiatan industri hulu migas. Menurutnya, persyaratan alih fungsi lahan pertanian di Kementerian Pertanian dan pemenuhan kewajiban cetak sawah yang tidak mudah. Proses permohonan rekomendasi perubahan penggunaan LSD juga memerlukan waktu lama.

“Terutama jika area tersebut juga merupakan LP2B, karena proses perubahan alih fungsi LSD harus menunggu persetujuan LP2B terbit,” bebernya saat Rapat Kerja (Raker) Stakeholder Daerah 2025 yang diselenggarakan oleh SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) pada Kamis, 14 Agustus 2025, di Semarang.

Baca Juga :   Security EPC-5 Mulai Disurplus

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono sebelumnya menyampaikan, eksplorasi dan eksoitasi migas di lapangan Sukowati tidak mudah, karena berada di kawasan padat penduduk.

“Apalagi di bawah alun-alun Bojonegoro itu kan banyak minyak dan gas. Saya takutnya nanti miringnya sampai ke situ. Tapi saya yakin masalah safety, kajiannya pasti sudah disiapkan secara matang,” katanya saat peresmian tajak sumur Sukowati pada 21 Oktober.

Bupati Wahono berharap Pertamina EP Sukowati lebih memperhatikan masyarakat dan desa-desa ring satu dalam program pemberdayaan maupun pelibatan tenaga kerja, meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi dengan Forkopimcam. Sebab mereka yang akan terdampak pertama kali dari kegiatan.

“Potensinya ada di sini dan bisa dimaanfaatkan oleh negara lewat Peetamina, tentu kami ingin berkolaborasi dan bersinergi. Kalau ini dibangun dengan baik, tentu semua akan berjalan dengan baik juga. Sehingga kita bisa membangun lumbung energi di Bojonegoro,” pungkasnya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait