SuaraBanyuurip.com – Pemerintah terus mempercepat langkah menuju ketahanan energi dan hilirisasi industri nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Nomor 2 dan Nomor 5. Keberhasilan agenda strategis tersebut sangat bergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang menguasai bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Menyadari hal tersebut, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi, Satya Hangga Yudha Widya Putra, melakukan audiensi strategis dengan Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sekaligus Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan, Sudarto. Pertemuan ini membahas optimalisasi pengembangan talenta di sektor ESDM melalui skema beasiswa LPDP.
Dalam audiensi tersebut, Satya Hangga Yudha Widya Putra, yang juga merupakan alumni Beasiswa LPDP tahun 2015 dan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjend) Organisasi Penerima Beasiswa LPDP (Mata Garuda) menekankan pentingnya konektivitas antara jejaring alumni global dengan kebutuhan strategis institusi pemerintah.
Sebagai Presiden Ikatan Alumni Michigan State University (MSU) di Indonesia serta Executive Director NYU Alumni Association, pria yang akrab disapa Hangga ini berupaya menjembatani kerja sama antara universitas top dunia dengan Kementerian ESDM.
”Saya berkomitmen mendorong ASN maupun putra-putri terbaik di sektor ESDM agar mampu menembus universitas unggulan dunia, sehingga dapat membawa pulang pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi kemajuan industri nasional,” ujar Hangga dalam keterangan tertulis yang diterima SuaraBanyuurip.com, Kamis (5/2/2026).
Sementara itu, Direktur Utama LPDP, Sudarto, menyampaikan, bahwa mulai tahun 2026 LPDP akan mengusung arah kebijakan baru dengan fokus pada “Industrialization”. LPDP akan memberikan prioritas pada bidang studi STEM, terutama bagi pelamar yang diterima di 17 Perguruan Tinggi Utama Dunia (PTUD) seperti Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, hingga University of Tokyo.
Sudarto menyoroti tantangan bangsa Indonesia yang saat ini masih dominan di sektor komersialisasi, namun dangkal di sisi penguasaan hak cipta dan riset dasar. Ia menegaskan, SDM di sektor energi perlu didorong untuk menguasai teknologi strategis seperti nuklir, kimia organik, hingga energi baru dan terbarukan (EBT).
“Agar Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sudarto, membuka peluang kolaborasi melalui skema co-funding bagi ASN Kementerian ESDM yang menargetkan universitas prioritas di berbagai negara, termasuk Prancis, Rusia, dan Jepang. Ia juga mengajak BUMN di bawah naungan Kementerian ESDM, seperti Pertamina, PLN, dan MIND ID, untuk bersinergi melalui open call beasiswa bersama LPDP.
Sinergi pendanaan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan penerima beasiswa sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan tinggi nasional dalam mendukung efisiensi dan daya saing industri dalam negeri.
“Contohnya sektor pupuk dan semen yang saat ini masih tertinggal secara kompetitif dibandingkan negara lain seperti China,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Hangga menyampaikan bahwa pihaknya, dengan arahan dan petunjuk Kepala BPSDM Kementerian ESDM untuk memastikan para ASN di lingkungan Kementerian ESDM mendapatkan akses informasi dan bimbingan yang memadai guna menembus program-program studi prioritas tersebut.
Hal ini sejalan dengan tugas LPDP sebagai badan yang mengelola Dana Abadi Pendidikan demi menjamin keberlangsungan pembangunan intelektual bangsa. Dengan orkestrasi yang tepat antara kebijakan kementerian dan pendanaan pendidikan diharapkan lahir generasi pemimpin ESDM yang mampu mewujudkan target hilirisasi dan ketahanan energi nasional.(red)
Kembangkan SDM Indonesia, Kementerian ESDM dan LPDP Perkuat Sinergi Beasiswa STEM






