SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Bocah jenius asal Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Daffa Ardian Pratama, kini mulai menjalani asesmen psikologis untuk mengetahui secara pasti tingkat kecerdasannya, Kamis (9/4/2026).
Langkah ini dilakukan orang tua setelah melihat kemampuan Daffa yang dinilai jauh berbeda dibanding anak seusianya, terutama dalam memahami mesin dan teknologi.
Psikolog Agus Ari Afandi yang melakukan asesmen mengatakan, pemeriksaan dilakukan untuk mengukur berbagai aspek kecerdasan yang dimiliki Daffa.
“Dari asesmen ini, kami mengukur tingkat kecerdasan Daffa. Nanti akan terlihat dia masuk kategori di atas rata-rata, superior, gifted, atau mungkin jenius,” kata Agus Ari Afandi kepada Suarabanyuurip.com pascaasesmen.
Menurut Agus, begitu karib disapa, hasil asesmen tidak hanya berhenti pada angka kecerdasan, tetapi juga menjadi dasar dalam menentukan pola pendidikan dan pola asuh yang tepat.
“Kami juga akan berdiskusi dengan orang tua terkait bagaimana proses pendidikan dan pola asuh yang sesuai agar potensi Daffa bisa berkembang maksimal,” jelasnya.
Dari hasil sementara, Daffa disebut telah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata. Namun, kesimpulan akhir masih menunggu proses analisis lanjutan.
“Secara umum memang terlihat di atas rata-rata, tapi kami masih melakukan scoring dan analisa sebelum menyimpulkan hasil akhirnya,” tambahnya.
Laporan lengkap hasil pemeriksaan psikologis tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu satu hingga dua hari dan akan disampaikan kepada orang tua.
Agus menekankan, potensi kecerdasan seperti yang dimiliki Daffa sangat bergantung pada dukungan lingkungan. Ada dua hal penting yang dimaksud, yaitu pola asuh orang tua dan lingkungan yang mendukung.
”Lingkungan harus memahami bahwa Daffa memiliki kecerdasan yang berbeda, sehingga bisa diberikan metode pengajaran yang tepat,” terangnya.
Ia berharap hasil asesmen ini menjadi titik awal dalam mengembangkan potensi Daffa secara optimal.
“Kalau sudah diketahui potensinya, mari bersama-sama memberi dukungan, mulai dari orang tua, sekolah, hingga lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, ayah Daffa, Andik Sujianto mengaku, sengaja melakukan tes psikologis untuk mendapatkan gambaran jelas tentang kemampuan anaknya.
“Harapan saya, hasil tes ini bisa menjadi titik awal menentukan arah pendidikan Daffa. Selama ini saya masih bingung sebenarnya potensinya di mana, minatnya apa, apakah memang berbeda atau sama seperti anak seusianya,” ungkapnya.
Ia berharap jika Daffa memang memiliki kecerdasan tinggi, anaknya bisa mendapatkan penanganan dan pendidikan yang tepat.
Sebelumnya, Daffa menjadi perhatian karena kemampuannya memahami dan merakit berbagai perangkat teknologi secara otodidak. Di usianya yang masih duduk di bangku kelas 3 SDN 1 Dander, ia bahkan lebih cepat memahami mesin dibanding pelajaran sekolah formal.
Daffa juga diketahui mampu membedakan mesin dua tak dan empat tak, membuat dimmer, hingga merakit robot sederhana. Kemampuan unik tersebut membuat orang tuanya yakin bahwa Daffa membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda agar potensinya tidak terhambat.(fin).
Bocah Jenius Bojonegoro Jalani Asesmen, Orang Tua Cari Pola Pendidikan Tepat



