Daffa, Bocah Jenius Kelas 3 SD Asal Bojonegoro Lebih Cepat Pahami Mesin

Daffa Ardian Pratama
JENIUS : Daffa Ardian Pratama, bocah kelahiran 29 Juli 2017 asal Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mampu lebih cepat pahami mesin hingga merakit berbagai perangkat teknologi secara otodidak.

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro  — Di usianya yang masih sangat belia, Daffa Ardian Pratama, sudah menunjukkan kemampuan di luar kebiasaan anak seusianya. Bocah kelahiran 29 Juli 2017 asal Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini dikenal mampu lebih cepat memahami mesin hingga merakit berbagai perangkat teknologi secara otodidak.

‎Daffa merupakan anak pertama dari pasangan Andik Sujianto dan Lusy Ardiana tersebut kini masih duduk dibangku kelas 3 SDN Dander 1. Sejak kecil, ia telah menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan mesin dan teknologi.

‎Saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, Daffa pernah mengajukan pertanyaan sederhana namun cukup teknis kepada gurunya, yaitu apa fungsi busi pada kendaraan. Pertanyaan itu tak terjawab, dan justru membuatnya kecewa.

‎“Saya tidak mau sekolah, gurunya tidak bisa mengajari saya,” keluh Daffa kepada ayahnya saat itu.

‎Kekecewaan itu sempat membuatnya enggan melanjutkan sekolah. Namun di balik sikap kritisnya, tersimpan potensi luar biasa. Daffa diketahui mampu membedakan mesin motor dua tak dan empat tak, bahkan memahami cara kerja berbagai perangkat elektronik dengan cepat.

Baca Juga :   Bocah Jenius Bojonegoro Jalani Asesmen, Orang Tua Cari Pola Pendidikan Tepat

Orang tuanya sempat khawatir dan membawa Daffa ke fasilitas kesehatan. Setelah mendapat rujukan dari Puskesmas Dander ke dokter spesialis kejiwaan di rumah sakit, hasilnya justru di luar dugaan.

‎“Dokter bilang hasil tes menunjukkan Daffa tergolong anak jenius, bukan autis,” ujar sang ayah, Andik Sujianto kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (8/4/2026).

‎Meski memiliki kecerdasan tinggi, perjalanan akademik Daffa tidak selalu berjalan mulus. Nilai sekolahnya cenderung biasa saja. Ia kurang tertarik dengan metode pembelajaran formal, dan lebih memilih belajar melalui praktik langsung.

‎Ketertarikannya pada dunia teknologi terlihat dari berbagai karya yang berhasil ia buat. Daffa pernah menciptakan dimmer, alat untuk mengatur kecepatan dinamo atau tegangan listrik. Tak hanya itu, ia juga mampu merakit robot sederhana seperti sapu otomatis.

‎Kemampuan eksplorasinya bahkan melampaui eksperimen biasa anak-anak. Dari keterangan orang tuanya, Daffa juga pernah mencoba membuat bubuk menyerupai mesiu dari bahan dapur—sebuah eksperimen yang menunjukkan rasa ingin tahu tinggi, meski tetap perlu pengawasan ketat.

‎”Saya uji, bubuk buatan Daffa beneran bisa meledak seperti bubuk mercon,” tutur Andik heran.

‎Keunikan lain dari Daffa adalah kemampuannya memahami cara kerja suatu alat hanya dengan melihat atau mencoba sebentar. Ia tidak sekadar menggunakan, tetapi juga menganalisis sistem di dalamnya.

‎Dalam beberapa kesempatan, Daffa bahkan mampu menjelaskan jawaban dari soal-soal tes kecerdasan yang tidak dipahami orang tuanya. Daffa terlihat enteng saja tanpa kesulitan dan sangat cepat memahami soal dalam buku tes kecerdasan.

‎Popularitasnya mulai meningkat setelah video aktivitasnya merakit alat elektronik diunggah ke media sosial dan ditonton jutaan kali. Bahkan, kontennya sempat menarik perhatian tokoh nasional Ganjar Pranowo yang ikut membagikan ulang videonya.

‎Melihat potensi besar tersebut, orang tua Daffa kini berupaya mencari pola pendidikan yang lebih sesuai. Mereka menyadari bahwa Daffa membutuhkan pendekatan khusus agar kemampuannya dapat berkembang secara maksimal.

‎“Saat ini kami masih ikhtiar mencari pendidikan yang sesuai untuk Daffa, karena kami merasa dia butuh pendidikan khusus,” ungkap Andik.(fin)

Pos terkait