SuaraBanyuurip.com – Rencana pembangunan kilang mini Liquefied Natural Gas (LNG) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dua kali pindah lokasi. Sebelum akhirnya dipilih Desa Sudu, Kecamatan Gayam, sebagai lokasi pendirian kilang.
“Sebelum di Sudu ada dua lokasi yang diincar,” kata seorang warga Desa Gayam yang ikut mencarikan tanah untuk lokasi kilang mini LNG tetapi tidak mau identitasnya disebutkan.
Dia menjelaskan, dua lokasi yang sebelumnya akan dijadikan lokasi pembangunan kilang mini LNG berada di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam dan Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu.
“Yang di Ngraho dekat jalan layang, tapi lokasinya lahan sawah dilindungi. Selain itu ada pemilik lahan yang dibagian depan tidak mau dibebaskan,” ujarnya.
“Sedangkan lokasi yang di Clangap berada utara kilang mini TWU agak ke timur. Lahannya berupa tanah tegalan, tapi katanya tidak masuk kawasan pertambangan,” lanjut sumber tadi.
Pemilik lahan di dua lokasi di Desa Ngraho dan Sumengko sudah diberi uang muka (down payment/DP) oleh pembeli tanah. Namun, transaksi jual beli tidak dilanjutkan karena pembeli tanah memilih lahan di Desa Sudu untuk pembangunan kilang mini LNG.
“Di dua lokasi sebelumnya sudah diberi DP. Nilainya bervariatif. Tapi tidak dilanjutkan. Uang mukanya ya hangus,” tuturnya.
Menurutnya, dipilihnya Desa Sudu sebagai lokasi rencana pembangunan kilang mini LNG karena dinilai lebih efisien. Sebab lokasi ini berada dekat dengan gas mettering Jambaran-Tiung Biru (J-TB) yang berada di Desa Sudu.
“Selain itu di dekat lahan yang sudah dibebaskan itu ada jembatan melintang jalan raya. Jadi pipa untuk mengalirkan gasnya nanti tidak perlu dilakukan crossing jalan raya, tapi bisa dilewatkan bawah jembatan,” bebernya.
“Kemarin investornya memberi ilustrasi, kalau kilang mini ini dibangun di Sumengko ibaratnya bisa menghabiskan 1 miliar, tapi kalau di Sudu hanya sekitar 500 an juta,” lanjut pria bertubuh dempal itu.
Kilang mini LNG di Desa Sudu rencananya akan memanfaatkan gas dari lapangan J-TB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem. Pembebasan lahan telah selesai dilakukan. Luasnya sekitar 1,7 hektar (ha), dengan harga Rp 1 juta per meter persegi (M2). Milik tiga orang, atau terdiri dari tiga nilai jual objek pajak (NJOP).
“Transaksi jual belinya sudah selesai. Hanya tiga NJOP,” Kepala Desa Sudu, Abdul Manan.
Manan berharap pabrik LNG yang akan dibangun di wilayahnya nanti bisa memaksimalkan sumber daya lokal. Baik dalam perekrutan tenaga kerja, maupun pemberian peluang usaha bagi warga Sudu.
“Kalau pemuda sini banyak diperkerjakan tentu akan mengurangi pengangguran. Masyarakat juga bisa menangkap peluang usaha lainnya,” tutur kepala desa dua periode itu.
Manan juga meminta perusahaan memberikan sosialisasi kepada masyarakat sebelum proyek dimulai. Agar masyarakat bisa mengetahui risiko, peluang kerja dan usaha yang dibutuhkan.
“Sehingga proyek ini benar-benar memberikan manfaat bagi warga lokal Sudu,” pungkasnya.(red)





