SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu yang terlibat dalam penyertaan modal (Participating Interest/PI) memutuskan bekerja sama dengan Pertamina untuk mengekspor minyak mentah dari Lapangan Banyu Urip. Ekspor dilakukan karena stok minyak di semua kilang milik Pertamina di dalam negeri sudah penuh hingga pertengahan tahun 2021 akibat pandemi Covid-19.
“Dari dua opsi kemarin kami putuskan untuk joint sales export dengan Pertamina,” ujar Ketua BKS Blok Cepu, Hadi Ismoyo kepada suarabanyuurip.com, Jumat (2/10/2020).
Hadi menjelaskan empat BUMD yang tergabung dalam BKS Blok Cepu memilih kerja sama ekspor dengan pertamina dari pada ekspor mandiri. Pertimbangannya, mingingat waktu yang sangat pendek, lebih efesien dan cepet untuk joint sales dengan Pertamina yang mempunyai jumlah cargo lebih besar.
“Ini yang menjadi dasar pertimbangan kami memilih opsi tersebut,” tegas President Director PT. Petrogas Jatim Utama Cendana, BUMD Provisin Jatim itu.
Ekspor minyak mentah dari Lapangan Banyu Urip akan dilakukan BKS Blok Cepu bersama Pertamina pada bulan November dan Desember 2020.
“Karena kami butuh persiapan dokument legal dan komersial,” tandas Hadi.
Menurutnya, ekspor minyak mentah Banyu Urip dilakukan manakala kilang-kilang Pertamina penuh di masa pandemi.
“Jika kondisi normal akan diutamakan kebutuhan dalam negeri, mengikuti kebijakan pemerintah,” pungkasnya.Â
Ada empat BUMD pengelola penyertaan modal (participating interest/PI)Â yang tergabung dalam BKS Blok Cepu.Yakni PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) BUMD Bojonegoro mendapat 4,5%, PT Blora Patragas Hulu (BPH) BUMD Blora 2,28 %, Sarana Patra Hulu Cepu (SPHC) BUMDÂ Provinsi Jateng 1,1% , dan PT. Petrogas Jatim Utama (PJU) BUMD Provinsi Jatim 2,2%.
President Director PT ADS, Lalu M Syahril Majidi menyampaikan joint salesy export dengan Pertamina merupakan pilihan yang tepat. Sebab, jika BKS melakukan ekspor mandiri tidak efisien karena jatah minyak yang diperoleh BKS hanya 10% dari produksi lapangan Banyu Urip.Â
“Kalau ekspor sendiri bisa empat sampai lima bulan kita baru bisa melakukan pengiriman. Sebab kapasitas kargo sekitar 600 ribu barel,” ujar Syahril usai mengikuti sidang gugatan PI Blok Cepu di Pengadilan Negeri Bojonegoro beberapa waktu lalu.
Ditambahkan, ekspor akan dilakukan di Singapura atau negara-negara lain.
“Kalau pasarnya banyak,” pungkas pria yang lama bekerja di bursa efek itu.(suko)




