Rekam Jejak Caleg DPR RI Abdul Wahid Azar, dari Anak Penjual Sayur Keliling Hingga Menjadi Sultan Kemang Pratama

abdul wahid azar.
Abdul Wahid Azar, Caleg DPR-RI Partai Demokrat Dapil IX (Bojonegoro dan Tuban).

H. Abdul Wahid Azar,SH memiliki perjalanan hidup sarat inspirasi. Lahir dari keluarga buruh tani, Wahid berhasil meraih kesuksesan gemilang.

Rekam jejak Abdul Wahid dimulai dari sebuah desa yang indah, tempat dia lahir sebagai anak laki-laki yang sehat dan kuat. Meskipun berasal dari keluarga buruh petani, Wahid tumbuh sebagai bocah yang penuh optimisme dan dikelilingi oleh kasih sayang kedua orang tuanya.

Kebahagiaan Wahid sebagai sosok kecil yang ceria mendadak redup ketika kematian ayah tercintanya secara tiba-tiba di saat menjelang Ujian Akhir Nasional SD. Pukulan ini terasa begitu telak, mengingat ayahnya adalah satu-satunya tulang punggung keluarga. Namun, meskipun terguncang oleh rasa kehilangan yang mendalam, Wahid tetap tegar dan bertekad untuk terus melangkah.

Setelah kematian ayahnya, peran ibunya menjadi semakin penting. Ibu Wahid tidak hanya menjadi seorang ibu, tetapi juga harus mengemban tanggung jawab sebagai pencari nafkah. Dengan tekad dan kekuatan yang luar biasa, ibu Wahid memutuskan untuk berjualan sayur mayur dan lauk pauk.

Setiap harinya, ibu Wahid berangkat dini hari dengan berjalan kaki menuju pasar di kota kecamatan untuk membeli bahan dagangan. Setelah mengatur dagangannya, dia kembali ke kampung-kampung menjajakannya dengan menggunakan rinjing (tempat dari bambu) yang diikat dengan kain gendongan yang dililitkan pada pundaknya. Dengan beban berat yang beralih ke pundak, tangan ibu Wahid sibuk memegang tas jinjing bergantian antara tangan kiri dan kanan.

Ibu Wahid, seorang wanita tangguh yang tidak hanya mampu mengatasi kesedihan dan kesulitan, tetapi juga mampu memainkan peran ganda sebagai ibu yang peduli dan pencari nafkah yang gigih. Kisah perjuangannya sebagai penjual sayur keliling menciptakan landasan kuat bagi Wahid dan mengajarkannya nilai-nilai kehidupan yang tak ternilai. Dari kehidupan sederhana di desa, Wahid belajar tentang ketahanan, tekad, dan cinta tanpa pamrih yang membentuknya menjadi pribadi yang tangguh.

Usai lulus SD Wahid harus sekolah SMP. Tekanan ekonomi membuat Wahid kecil harus berpisah dengan ibunya dan tinggal dengan saudara kandung di daerah di tepi Sungai Bengawan Solo. Daerah ini memiliki kisah unik dimana penguasa lokal memegang kendali atas pertambangan tradisional. Minyak bumi dieksploitasi secara tradisional dengan teknologi sederhana, namun kekuatan fisik dan ketahanan para penambang minyak mengumpulkan hasil panen mereka ton demi ton, yang kemudian dijual untuk dijadikan mata uang jutaan rupiah. Pemandangan sebuah “kerajaan kecil” pun tumbuh, tidak jauh dari tempat tinggal Wahid.

Kekayaan alam yang melimpah di daerah ini tidak hanya berkaitan dengan minyak bumi. Hutan-hutan juga sering kali menjadi sasaran jarahan. Wahid, sebagai saksi bisu terhadap realitas keras ini, terpaksa diam. Penguasa lokal dan juragan minyak memiliki kekuatan yang besar pada masa itu, kepatuhan dan diam dianggap sebagai bentuk penghormatan.

Dalam keheningan yang membebani, Wahid merenungi situasi sulit yang dihadapinya. Diam adalah pilihan terbaik untuk menghindari risiko dan konflik yang bisa merugikan. Meskipun hatinya mungkin penuh dengan keinginan untuk menyuarakan keadilan, Wahid tahu bahwa pada masa itu, kepatuhan dan ketundukan adalah kunci untuk bertahan hidup di tengah kendali penguasa lokal.

Dengan penuh kesadaran akan realitas yang sulit, Wahid melangkah maju di tengah gejolak yang dihadapinya. Diamnya adalah bentuk adaptasi dan kebijaksanaan untuk tetap bertahan di tengah kerasnya kehidupan di daerah tersebut.

Wahid, seorang lulusan SMA Muhammadiyah Bojonegoro, tumbuh di tengah-tengah realitas di mana status sekolah dan nilai raport memiliki pengaruh besar terhadap pilihan masa depannya. Meskipun impian untuk melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan Hukum menggelora di dalam dirinya, kenyataan hidupnya menuntut keputusan yang terpaksa.

Setelah melewati ujian nasional yang penuh tekanan dan evaluasi tahap akhir (Ebtanas) yang menakutkan, hasilnya tidak begitu memuaskan. Status sekolahnya yang masih dalam tahap diakui menciptakan kendala serius. Pilihan melanjutkan ke Universitas Nusa Cendana di Kupang menjadi satu-satunya jalan yang terbuka baginya.

Walaupun awalnya terasa seperti sebuah keterpaksaan, perjalanan Wahid di universitas tersebut membawa transformasi yang tak terduga. Ia belajar menghadapi tantangan dengan gigih, menyusuri kurikulum hukum dengan tekun, dan menggali ilmu dari setiap sudut yang bisa dijelajahi. Dalam prosesnya, ia menemukan semangat baru dan motivasi untuk membuktikan bahwa nilai-nilai dan kualitas seseorang tidak selalu tercermin dalam angka atau status sekolah.

Baca Juga :   Pertamina EP Cepu Zona 12 dan Ademos Tanam 1.000 Pohon di SMPN 1 Ngasem 

Perjalanan Wahid bukan hanya tentang menghadapi kenyataan, melainkan juga tentang mengubah kenyataan tersebut. Dia mengubah keputusan terpaksa menjadi pilihan penuh makna, membuktikan bahwa setiap langkah kecil bisa menjadi fondasi bagi sebuah perjalanan yang besar. Dengan tekad yang kokoh, Wahid berhasil menunjukkan bahwa nilai sejati seseorang tidak hanya diukur dari lembaran rapor atau hasil ujian nasional, melainkan dari kegigihan, semangat belajar, dan tekad untuk meraih impian.

Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Nusa Candana Kupang, Wahid merantau ke Jakarta, meskipun beberapa perusahaan nasional menerimanya. Tekad Wahid sangat kuat untuk merantau ke Ibukota meskipun sempat menyandang status pengangguran, akhirnya nasib baik memberikan pekerjaan sebagai awal karir pada kantor notaris di Jakarta.

“Saat mulai bekerja itulah awal perjalanan hidup saya. Susah senang saya lalui dengan optimisme,” ujar Wahid menceritakan perjalanan hidupnya kepada suarabanyuurip.com.
Meskipun pekerjaan di Notaris bukanlah yang paling glamor atau terkenal, Wahid menyambutnya dengan tangan terbuka. Ia menyadari bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan yang lebih besar.

Bekerja di kantor notaris, Wahid belajar dengan tekun dan mengasah keterampilan profesionalnya. Ia menjalani setiap hari dengan semangat dan antusiasme, menghadapi pahit-getir kehidupan perkotaan dengan senyuman dan keyakinan bahwa setiap pengalaman adalah pembelajaran berharga.

Wahid membuktikan bahwa dalam dunia yang penuh dengan rintangan, optimisme dan tekad yang kuat adalah kunci untuk mengubah setiap tantangan menjadi peluang. Tiga tahun berada di Kantor Notaris menjadi fase yang sangat menentukan dalam perjalanan hidup Wahid. Pengalaman yang dipetiknya di dunia profesional membuka matanya terhadap realitas kompleks dan dinamis di balik pembuatan kontrak perjanjian dan proses pendirian perseroan terbatas. Sebagai bagian dari tim yang menangani kontrak-kontrak besar untuk konglomerat, Wahid terlibat dalam menghadapi tantangan yang tidak hanya teknis tetapi juga membutuhkan kecermatan dan kebijaksanaan hukum yang tinggi.

Proses pembuatan perseroan terbatas membawanya melibatkan diri dalam birokrasi yang berliku dan melelahkan. Walau sulit, pengalaman ini mengasah kemampuannya dalam menavigasi dunia hukum korporat, memperkuat keterampilan analitisnya, dan mengasah insting bisnisnya.
Tak hanya itu, pengalaman di dunia pertanahan juga menjadi babak baru dalam perjalanan profesional Wahid. Menangani kompleksitas birokrasi yang terkait dengan aspek kepemilikan tanah membuka pandangan Wahid terhadap tantangan yang unik dalam sektor ini. Meski rumit, ia berhasil mengatasi setiap hambatan dan melibatkan diri dalam berbagai transaksi properti yang menguji keuletannya.

Pengalaman di dunia profesional tidak hanya membuka pintu kesempatan, tetapi juga membekali Wahid dengan pengetahuan dan keberanian untuk menciptakan jalan hidupnya sendiri. Dengan semangat kewirausahaan yang membara, Wahid siap menghadapi tantangan baru dan mewujudkan visi menjadi pengusaha muda yang sukses.

Sebuah petualangan baru di mulai menjadi pengusaha muda dalam dunia telekomunikasi yang waktu itu berkembang sangat cepat dari mulai bisnis perangkat Wartel yang menjamur di era tahun 90 an hingga tumbuhnya teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol), hingga tumbuhnya teknologi telepon seluler, yang merupakan usaha predator membunuh teknologi lama menjadi teknologi baru.

Wahid, dengan semangat kewirausahaan yang berkobar, memulai petualangan baru sebagai pengusaha muda di dunia telekomunikasi yang pada waktu itu berkembang sangat pesat. Awalnya, dia memfokuskan perhatiannya pada bisnis perangkat Wartel yang saat itu sedang menjamur di era tahun 90-an. Bisnis ini memberinya pengalaman berharga dalam menangani aspek infrastruktur telekomunikasi konvensional.

Keputusannya untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi membawa kesuksesan pada usaha telekomunikasi yang dijalankannya. Wahid berhasil memanfaatkan momentum perubahan, menjadikan perusahaannya sebagai salah satu pelaku utama dalam industri telekomunikasi yang terus berkembang.

Petualangan Wahid sebagai pengusaha muda dalam dunia telekomunikasi tidak hanya mencerminkan keberaniannya menghadapi risiko, tetapi juga kemampuannya untuk melihat peluang di tengah perubahan. Melalui perjalanan ini, Wahid tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga agen perubahan yang mendorong evolusi teknologi telekomunikasi menuju masa depan yang lebih modern dan terkoneksi.

Baca Juga :   Pemkab Bojonegoro Usulkan Dana Banpol 2024 Rp5 Miliar

“Alhamdulillah, dari usaha itu hidup saya menjadi lebih mapan. Saya memiliki mobil,rumah, dan tabungan,” ungkapnya.

Kesuksesan Wahid sebagai pengusaha muda dalam dunia telekomunikasi tidak hanya tercermin dalam pencapaiannya di bidang bisnis, tetapi juga dalam transformasi kehidupan pribadinya. Pundi-pundi keberhasilannya semakin tebal, dan perubahan signifikan terlihat dari atribut-atribut yang dimilikinya. Mulai dari mobil dan rumah mewah di kawasan perumahan elit di Bekasi.

Usai menikah, perjalanan hidup Wahid terus menorehkan kisah sukses yang semakin luar biasa.
Perusahaan yang dijalankannya berkembang pesat, menjangkau berbagai bidang bisnis yang beragam. Salah satu langkah besar yang diambilnya adalah terlibat dalam pengembangan Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Wahid memimpin pengembangan infrastruktur ATM di seluruh Indonesia, mengarah pada kesuksesan grup bisnisnya yang diberi nama Multiartha. Berbagai kendala dan tantangan dihadapi dengan tekad dan inovasi, sehingga wahana keuangan ini menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat di berbagai pelosok tanah air.

Seiring berjalannya waktu, Multiartha tumbuh menjadi pemain utama dalam sektor keuangan di Indonesia. Kantor pusat dan cabang-cabangnya tersebar di seluruh penjuru negeri, menciptakan jaringan yang luas dan memperluas dampak positifnya. Dari kantor pusat yang megah hingga cabang-cabang yang tersebar di kota-kota besar dan kecil, perusahaan ini menjadi bagian integral dari perkembangan ekonomi di berbagai daerah.

Selain kesuksesan dalam dunia bisnis, Wahid juga menorehkan prestasi luar biasa dalam karir organisasinya. Perjalanannya dimulai sebagai Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Warparpostel Indonesia (APWI), di mana dia aktif terlibat dalam upaya memajukan dan membela kepentingan para pengusaha di bidang telekomunikasi.

Tidak berhenti di situ, Wahid terus mengembangkan karir organisasinya dengan menjadi bagian dari Asosiasi Pemasok Perangkat Wartel Indonesia (APPWI). Di sini, peran dan kontribusinya semakin meluas, mencakup dukungan terhadap perkembangan teknologi dan industri perangkat telekomunikasi di Indonesia.

Prestasinya terus berkembang, dan Wahid menjadi anggota Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), organisasi yang memiliki peran penting dalam mewujudkan dan mendukung pembangunan ekonomi nasional. Di sini, dia berkontribusi dalam pengembangan berbagai sektor ekonomi, menunjukkan komitmen dan kepeduliannya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Perjalanan karir organisasi Wahid mencapai puncaknya saat dia menjadi Bendahara Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI). Dalam kapasitas ini, Wahid memainkan peran strategis dalam mendukung perjalanan ibadah haji bagi jamaah Indonesia. Keterlibatannya di IPHI mencerminkan komitmen pada nilai-nilai persaudaraan, solidaritas, dan pelayanan masyarakat.

“Tidak semua usaha yang saya jalankan berjalanan mulus. Saya pernah mengalami kegagalan dan terpuruk. Tapi saya tetap optimis dan pantang menyerah,” tandasnya.

Salah satu momen sulit Wahid adalah dua kali gagal dalam menghadapi tes jabatan publik. Pertama, ketika dia gagal menduduki posisi Dewan Pengarah Badan Nasional Bencana Alam (BNPB). Meskipun mungkin langkah ini tidak berhasil, Wahid tidak menyerah dan melihat kegagalan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang.

Kegagalan kedua terjadi ketika dia tidak berhasil mengikuti tes calon Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Meskipun ini merupakan pukulan yang sulit, Wahid tidak membiarkan kegagalan ini meruntuhkan semangatnya. Sebaliknya, dia menggunakan pengalaman ini sebagai dorongan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki kelemahan, dan terus meningkatkan kualifikasi serta keterampilannya.

Salah satu usaha yang dilakukan Wahid saat ini adalah maju sebagai calon legislatif (Caleg) DPR-RI Partai Demokrat Daerah Pemilihan (Dapil) IX (Kabupaten Bojonegoro dan Tuban) nomor urut 2. Wahid menegaskan jika terpilih akan memberikan kontribusi sebesar-sebesarnya kepada masyarakat dalam penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran, peningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan, serta program lain yang dibutuhkan dan daapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ini sudah menjadi komitmen saya. Untuk itu, saya mohon dukungan suaranya dalam pemilu pada 14 Pebruari 2024 nanti,” pungkas Wahid.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *