Menteri ESDM Berharap Ada Tambahan Produksi 30 Ribu BPH dari Pengeboran Sumur Infill Clastic Banyu Urip

Pengeboran sumur infill clastic Banyu Urip.
Menteri ESDM Arifin Tasrif didamping Ditjen Migas, SKK Migas, Presiden ExxonMobil Indonesia, pejabat Pertamina foto bersama saat meninjau tajak sumur infill clastic Banyu Urip, Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jatim.

SuaraBanyuurip.com – Pengeboran sumur infill clastic lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu dimulai. Dari pengeboran tersebut ditargetkan dapat menambah produksi minyak sebesar 20.000 hingga 30.000 barel per hari (Bph).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif meninjau secara langsung tajak sumur infill clastic Lapangan Banyu Urip yang berada di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (1/3/2024). Pemboran sumur infill carbonate merupakan bagian dari drilling campaign di Blok Cepu yang dilakukan oleh Exxonmobil dimulai tahun 2024 hingga tahun 2026. Kegiatan ini terdiri dari pemboran 5 sumur infill carbonate dan 2 sumur clastics.

Sesuai rencana drilling campaign, pemboran 2 sumur infill carbonate yang akan dilaksanakan tahun 2024 diproyeksikan akan mulai onstream di tahun 2024 ini dengan dilakukan tie in ke fasilitas eksisting. Selanjutnya diikuti dengan pemboran 3 sumur infill carbonate dan 2 sumur clastics dalam rentang waktu hingga tahun 2025 dan diharapkan onstream tahun 2026.

Kegiatan pemboran ini dilakukan di antara sumur produksi existing yang ada di lapangan Banyu Urip untuk mengambil minyak yang tidak bisa diambil oleh sumur sebelumnya sekaligus untuk membuktikan cadangan reservoir clastics (reservoir batu pasir). Kegiatan ini diharapkan dapat menambah produksi lapangan Banyu Urip sebesar 42 juta barel sehingga dapat meningkatkan produksi minyak di lapangan Banyu Urip yang saat ini berkontribusi sekitar 25% dari produksi minyak secara nasional.

Pada kunjungan tersebut, Menteri Arifin didampingi Pj. Bupati Bojonegoro Adriyanto, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Deputi Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo, Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas Rudi Satwiko, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Wiko Migantoro, Direktur Manajemen Resiko PT Pertamina Ahmad Siddik Badrudin.

Juga President ExxonMobil Cepu Limited Carole J. Gall, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi Chalid Salim Said, Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Muhamad Arifin dan Ketua BKS PI Blok Cepu Suko Hartono.

Baca Juga :   Forkomas Ba-Ja : Daripada APBD SiLPA, Mending untuk Investasi Pemboran Sumur Baru Blok Cepu

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan apresiasi terhadap ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang mampu menjaga produksi Blok Cepu secara optimal. Lapangan Banyu Urip yang awalnya potensinya adalah 400 juta barel, sampai hari ini sudah menghasilkan 630 juta barel dan berpotensi hingga 1 miliar barel. Saat ini, produksi di Blok Cepu mulai menurun, oleh karenanya bersama pemangku kepentingan mendorong untuk menjaga produksi Banyu Urip.

“Saat ini direncanakan ada 7 pemboran, jika dibandingkan 8 tahun lalu tidak ada sama sekali pemboran. Harapannya, lapangan Clastic memiliki potensi yang sama dengan lapangan Carbonat yang memiliki potensi hingga 1 miliar barel,” kata Arifin dalam keterangan tertulisnya.

Minyak Banyu Urip.
Fasilitas pemrosesan minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Arifin mengharapkan dari kegiatan pemboran sumur infill dan clastic akan ada tambahan 20.000 hingga 30.000 barel per hari sehingga bisa menahan laju penurunan produksi. Lapangan Clastic Banyu Urip diharapkan juga menghasilkan produksi yang sama dengan lapangan Carbonat.

“Kami bangga dapat terus melanjutkan kerja sama dengan Exxon, sebagai perusahaan terbesar di dunia dengan pengalaman dan teknologi yang Mumpuni. Kita terus melakukan kerjasama dengan Exxon, termasuk kerja sama carbon capture dan rencana investasi Exxon lainnya di Indonesia. Kita berharap banyak dengan output yang semaksimal mungkin dari lapangan Cepu,” ujar Arifin.

Sementara itu Kepala SKK Migas menyampaikan bahwasanya SKK Migas memberikan perhatian yang besar terhadap upaya menjaga produksi lapangan minyak di Banyu Urip agar tetap optimal. Dwi menyampaikan bahwa produksi lapangan Banyu Urip telah melampaui target dalam rencana pengembangan (plan of development/PoD). Keberhasilan ini berkat berbagai upaya dan terobosan yang dilakukan oleh SKK Migas dan ExxonMobil dalam menjaga kinerja Blok Cepu.

“Tajak sumur infill carbonate lapangan Banyu Urip adalah upaya lanjutan yang dilakukan oleh SKK Migas dan ExxonMobil selaku operator untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 42 juta barel dengan tetap memperhatikan kemampuan dan daya dukung reservoir yang ada,” terang Dwi.

Baca Juga :   JOB P-PEJ Diminta Tingkatkan Sarana EWS

“Saya menyampaikan apresiasi kepada EMCL dan Pertamina Drilling Service Indonesia yang mampu memenuhi komitmennya untuk menjalankan kegiatan drilling campaign dengan mempercepat pelaksaan kegiatan pemboran yang awalnya akan dimulai di September 2024. Kami mendorong agar bisa dipercepat di bulan Februari 2024, Alhamdulillah 1 Maret 2024 bisa dilaksanakan,” ujar Dwi.

Mantan Direktur Utama Pertamina itu menyampaikan bahwa kunjungan hari ini tentu tidak hanya semata-mata meninjau tajak sumur infill carbonate. Lebih dari itu, kunjungan ini menunjukkan kepedulian dan harapan Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk mendorong kinerja operasi yang semakin di optimal di Blok Cepu.

“Sebagai lapangan dengan produksi minyak sekitar 25% dari produksi minyak secara nasional, maka Banyu Urip sangat diharapkan kontribusinya untuk mencapai target peningkatan produksi dimasa depan, yaitu produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) di tahun 2030 untuk mendukung ketahanan energi nasional,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Presiden ExxonMobil Indonesia Carole Gall menyampaikan, “Proyek Banyu Urip Infill and Clastic, atau yang biasa kita sebut Proyek BUIC, memiliki arti yang sangat penting. Proyek ini akan berkontribusi besar terhadap aspirasi yang kami dukung penuh, yaitu tercapainya target nasional produksi 1 juta barel minyak per hari pada awal tahun 2030, yang sekaligus memperkuat keamanan energi nasional”.

Kegiatan drilling campaign Banyu Urip menggunakan anjungan dan peralatan yang keseluruhannya dibuat di Indonesia dan dioperasikan oleh PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero). Pengeboran ini menunjukkan tingkat kompetensi PDSI di bidang pengeboran minyak dan gas bumi, serta dukungan industri hulu migas untuk tumbuh berkembangnya perusahaan nasional serta komitmen SKK Migas dan KKKS dalam mengimplementasikan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di industri hulu migas.(red)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *