SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Tanaman padi seluas sekira 98 hektare di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengalami kerusakan atau puso akibat kekeringan. Sehingga sebagian petani di tiga kecamatan meliputi Kecamatan Ngambon, Kapas, dan Balen terancam gagal panen.
Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman (Sarpras dan Perlintan) DKPP Bojonegoro, Retno Budi Widyanti mengatakan, dari 83.197 hektare lahan baku sawah (LBS), mulai Juli hingga Agustus tercatat seluas 98 hektare lahan padi rusak.
“Rinciannya di tujuh desa yang tersebar di Kecamatan Ngambon seluas 32 hektare, Kecamatan Kapas seluas 60 hektare, dan Kecamatan Balen seluas 6 hektare yang lahan pertaniannya rusak. Terluas di Desa Tanjungharjo 60 hektare,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (22/8/2024).
Dia mengatakan, rata-rata lahan terdampak kekeringan merupakan wilayah tadah hujan dan tidak ada sumber air. Namun, untuk area sekitar Sungai Bengawan Solo masih terbilang aman karena sumber air masih ada.
“Untuk irigasi Waduk Pacal saat ini hanya bisa mengairi tanaman palawija, sementara untuk tanaman padi tidak tercover. Karena Waduk Pacal kapasitas airnya berkurang,” katanya
Retno mengungkapkan, keberadaan sumber air seperti waduk, embung, hingga bendungan penting bagi keberlangsungan pertanian. Namun, untuk embung saat ini masih belum maksimal karena saat kemarau tiba embung di Bojonegoro juga kering.
“Setiap kemarau embung yang tersebar di Bojonegoro pasti kering sehingga tidak bisa membantu mengairi lahan pertanian,” ungkapnya.
Sementara Kabid Air Baku dan Irigasi Dinas PU SDA Kabupaten Bojonegoro, Bungku Susilowati mengatakan, total embung di Bojonegoro ada 450 embung yang telah diinventarisasi atau didata untuk mengetahui kondisi embung.
“Tercatat ada 148 embung yang kering di musim kemarau tahun ini,” katanya.(jk)





