SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Sebanyak 300 kepala keluarga (KK) atau 750 jiwa terdampak kebakaran sumur minyak tradisional di Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengungsi ke rumah kerabat, dan 3 KK atau 10 jiwa lainnya menempati tenda darurat di balai desa setempat.
Kebakaran sumur minyak yang ditengarai dioperasikan secara ilegal tersebut terjadi pada Minggu 17 Agustus 2025 siang. Sementara tim gabungan masih terus berjibaku memadamkan api.
Hingga Senin malam, tim gabungan dari BPBD Blora, Dinas Sosial (Dinsos) P3A, aparat desa, dan sejumlah instansi terkait masih berada di lokasi untuk melakukan pemadaman api serta pemantauan kondisi lapangan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Blora bersama Dinsos P3A langsung mendirikan dua tenda pengungsian di balai desa dan lapangan voli desa, serta membuka dapur umum yang dikelola Tagana. Selain itu, tiga unit excavator milik DPUPR dikerahkan untuk membuat tanggul darurat demi membantu proses pemadaman.
Data terakhir dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora, pada Senin 18 Agustus 2025 malam, terdapat ratusan warga Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, terpaksa mengungsi setelah kebakaran sumur minyak ilegal terjadi pada Minggu 17 Agustus 2025 siang.
Tercatat sedikitnya 300 KK atau 750 jiwa mengungsi ke rumah kerabat, sementara 3 KK atau 10 jiwa lainnya menempati tenda darurat di Balai Desa Gandu..
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Jawa Tengah, melalui Dinas Sosial P3A memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.
Kepala Dinas Sosial P3A Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi, menyampaikan, pihaknya fokus menangani kebutuhan dasar para pengungsi. Selain bantuan logistik, layanan kesehatan, hingga dapur umum dipersiapkan demi meringankan beban warga terdampak.
“Droping logistik sudah dilakukan. Hari ini kami juga menyiapkan dapur umum, tenda, dan tenaga masak untuk mendukung kebutuhan warga terdampak,” kata Luluk kepada Suarabanyuurip.com, Senin (18/08/2025) kemarin siang.
Luluk menyebutkan, bahwa data sementara sekitar 50 KK terdampak langsung dan sebagian besar mengungsi ke rumah kerabat maupun warga sekitar. Bersama Forkompinda, Dinsos P3A telah menyalurkan bantuan berupa paket kebutuhan dasar, selimut, kasur, serta perlengkapan anak.
Agar distribusi bantuan lebih efektif, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan kepala desa setempat dan terkait lainnya.
“Kami fokus pada kebutuhan dasar, khususnya makanan dan kesehatan. BAZNAS juga ikut terlibat memberikan santunan, sementara pembiayaan korban yang dirawat di rumah sakit dipastikan ditanggung BPJS,” ujarnya.
Dinsos P3A juga menyiapkan layanan dukungan psikologis (LDP) bekerja sama dengan RSUD dr. R. Soetidjono Blora bagi warga yang membutuhkan. Selain itu, bantuan air bersih menggunakan truk tangki sudah disiagakan untuk mengantisipasi keterbatasan air di lokasi.
Luluk menuturkan, peristiwa kebakaran sumur minyak di Blora bukan kali pertama terjadi. Ia menilai perlu adanya kesiapsiagaan jangka panjang di Blora.
“Kami akan membentuk Kampung Siaga Bencana di Randublatung dan Ngawen, seperti yang sudah ada di Cepu, agar penanganan ke depan lebih cepat,” tegasnya.
Dia mengimbau warga terdampak untuk mengikuti arahan petugas di lapangan.
“Harapanya, dalam 1–7 hari penanganan darurat selesai sehingga bisa dilanjutkan dengan pemulihan pascabencana, termasuk perbaikan rumah dan pemberian makanan,” pungkasnya.(ams)





