SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Dalam upaya pencegahan stunting, Yayasan Paratazkia memberikan pendampingan kepada 90 orang kader Posyandu di sekitar wilayah operasi Lapangan Unitisasi Gas Jambaran Tiung-Biru (JTB) dalam menciptakan herbal sehat.
Para kader Posyandu berasal dari Desa Mediyunan dan Desa Bandungrejo Kecamatan Ngasem, Desa Kaliombo dan Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, serta Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Upaya pencegahan stunting dimaksud, Pengelola Lapangan Gas JTB, PT Pertamina EP Cepu Zona 12 menggandeng Yayasan Paratazkia selaku manajer program, dengan menggelar ajang “Kompetisi Produk Sehat Posyandu Keterampilan dalam Pencegahan Stunting”.
”Kompetisi kami gelar pada 23 Oktober 2025 di GOR Dolokgede atau DOZS, diikuti 90 kader Posyandu,” kata Manager Program ‘Ayo Cegah Stunting’ Yayasan Paratazkia, Sudalhar kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (24/10/2025).
Para pemenang mendapatkan penghargaan peralatan dan dana pembinaan untuk terus mengembangkan inovasinya. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi seluruh kader Posyandu untuk terus berkreasi dan berperan aktif dalam mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Dijelaskan, bahwa lomba itu menjadi ajang bagi para kader dalam mengolah pangan lokal menjadi produk bernilai gizi tinggi, sebagai salah satu langkah strategis dalam pencegahan dan penurunan angka stunting.

Kompetisi itu menjadi wujud nyata dari upaya PT Pertamina EP Cepu dalam memberdayakan kader Posyandu agar lebih terampil dan inovatif. Sebab kader Posyandu adalah ujung tombak dalam pelayanan kesehatan di masyarakat.
”Melalui lomba ini, kami ingin mendorong mereka untuk terus berinovasi, khususnya dalam menciptakan menu makanan tambahan (PMT) yang sehat dan menarik bagi balita dan anak-anak,” ujar Sudalhar.
Dalam lomba, kata Sudalhar, berbagai produk unik dan kreatif pun dipamerkan, menunjukkan kekayaan hasil tanaman obat dan keluarga (Toga). Beberapa produk yang menarik perhatian adalah “Nugget Temu Lawak” yang dibuat oleh Posyandu Mawar 3 dari Desa Kaliombo, “Bakso Daun Kelor” yang dibuat oleh Posyandu Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, dan Minuman Sari Kacang Hijau yang dibuat oleh Posyandu Desa Bandunbrejo, Kecamatan Ngasem.
“Produk ini memanfaatkan kandungan gizi tinggi dari yang dikenal sebagai superfood untuk mencegah kurang gizi,” jelasnya.
”Kami ingin membuat cemilan yang disukai anak-anak, tapi dengan kandungan gizi yang maksimal. Kelor kami olah haluskan, lalu dicampur ke dalam adonan bakso. Rasanya enak, dan kami yakin anak-anak pasti suka,” ungkap Dasiyem, perwakilan dari Posyandu Desa Pelem.
Inovasi lain datang dari Posyandu Mekarsari Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, yang menciptakan Produk “Healthy Gummy”. Produk ini terbuat dari bahan herbal kunyit, jahe, sereh dan lemon.
“Ini cocok untuk anak-anak, selain bentuknya unik seperti permen, rasanya pun enak karena manisnya pas dan ada rasa sari lemonnya,” terang perwakilan Posyandu Mekarsari, Fitria Wulan.
Para juri dalam kompetisi terdiri dari tim kedokteran, dokter gizi dr.Trika Rahmawati, pakar obat tradisional Mardiana dari Dinas Kesehatan, Sri Asih dan Rahmat Penggiat tanaman obat keluarga (Toga).
Para juri menilai produk berdasarkan beberapa kriteria, seperti kandungan gizi, kreativitas, rasa, dan manfaat produk. Setelah melewati penilaian ketat, Posyandu Desa Bandungrejo berhasil meraih juara pertama dengan inovasi minuman sari kacang hijau.
Kepala Dusun Dolokgede, Harto mengaku, sangat bangga dengan para kader yang telah menunjukkan kreativitas luar biasa. Karena inovasi-inovasi seperti itu yang dibutuhkan untuk mempercepat penurunan stunting.
”Semoga produk-produk ini tidak berhenti di sini, tapi bisa terus dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas,” harap Harto.(fin)





