SuaraBanyuurip.com – Rencana proyek pengeboran sumur minyak Kedung Keris, Blok Cepu, di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan membebaskan lahan persawahan seluas 6.000 meter persegi atau 0,6 hektar (ha). Luas lahan tersebut jauh lebih sedikit dibanding pembebasan untuk sumur Kedung Keris sebelumnya yang saat ini sudah produksi.
Kepala Desa Sukoharjo, Sulistiyawan mengatakan, pembebasan lahan untuk proyek lapangan minyak Kedung Keris di desanya pada medio 2008-2009 lalu, seluas 14 ha. Rinciannya, 7 ha untuk pembangunan tapak sumur dan daerah penyangga di Desa Sukoharjo, dan 7 ha di Desa Leran untuk akses jalan masuk.
“Proyek Kedung Keris yang dulu totalnya 17 hektar. Kalau yang rencana Kedung Keris Barat ini saya belum tahu,” kata Sulis, panggilan akrabnya kepada suarabanyuurip.com, belum lama ini.
Menurut dia, harganya saat itu sebesar Rp125.000 per meter persegi (M2). Harga tersebut berbeda dengan harga lahan untuk fasilitas pipa yang mengalirkan minyak mentah dari lapangan Kedung Keris menuju pusat fasilitas pemrosesan minyak mentah (central processing facility/CPF) Banyu Urip di Kecamatan Gayam, yang mencapai Rp 300 ribu/M2.
“Tentu harganya beda. Kalau pembebasan lahan pipa itu sekitar tahun 2017-2018,” ungkapnya.
Sulis memperkirakan, rencana pengembangan sumur minyak Kedung Keris Barat tidak membutuhkan lahan luas, karena akan dilakukan pengeboan miring.
“Info yang saya dapat akan dibor miring dari sekitar sumur Kedung Keris yang saat ini sudah produksi,” pungkas kades dua periode itu.
Petani sekitar lapangan Kedung Keris, Syahroni sebelumnya mengatakan, telah mendengar rencana pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat.
“Sudah dengar lama. Tapi titik pastinya di mana belum tahu,” ujar petani Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu itu.

Roni memiliki sawah seluas setengah hektar. Lokasinya berada di Desa Sukoharjo, tepatnya di sebelah barat tapak sumur minyak Kedung Keris yang saat ini produksi. Lahan tersebut masih atas nama babaknya, Sukri.
Sawah Roni subur. Setiap tahun bisa ditanami padi tiga kali, karena mengandalkan sumur bor. Rata-rata produksinya bisa mencapai 7-8 ton per hektar.
“Di sini bisa mengandalkan sumur sibel, dan sumber airnya mudah,” tuturnya.
Roni mengaku tidak mempersoalkan jika nanti perusahaan membutuhkan lahan untuk pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat. Baik untuk pembangunan tapak sumur, daerah penyangga, maupun akses masuk menuju lokasi seperti di sumur minyak Kedung Keris yang saat ini sudah produksi.
Namun, dirinya juga tidak mempermasalahkan bila nantinya pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat dibor miring. Tidak membutuhkan lahan untuk pembangunan sarana pendukung.
“Sebagai petani kami tidak bisa apa-apa kalau nanti memang membutuhkan lahan untuk dibebaskan. Terpenting harganya sesuai,” ujarnya.
Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Dudung Abdurachman sebelumnya menyampaikan, kebutuhan lahan untuk proyek Kedung Keri Barat, Blok Cepu, hanya sekitar 0,6 hektare. Lahan tersebut masuk dalam kategori lahan sawah dilindungi (SLD), sehingga diperlukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat kendala agar pengeboran bisa terlaksana sesuai jadwal dan target sawasembada energi tercapai.
Dudung mengungkapkan, proyek West Kedung Keris memiliki potensi produksi sekitar 15.000 barel minyak per hari dengan nilai ekonomi sekitar Rp25 miliar per hari.
“Ini contoh yang sangat jelas. Kebutuhan lahannya kecil, tetapi dampaknya sangat
besar bagi produksi minyak nasional dan penerimaan negara. Jangan sampai potensi sebesar ini tertunda karena proses administrasi yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga,” tegasnya usai memimpin rapat koordinasi dengan Kementerian ATR/BPN, Kementerian ESDM, SKK Migas dan tiga kepala daerah di salah satu hotel di Bojonegoro.(red)



