Lapangan Gas JTB Produksi Penuh 192 MMSCFD, DPRD : DBH Migas Bagi Bojonegoro Bisa Meningkat

Lapangan Gas JTB.
Seorang pekerja sedang melintas di area fasilitas pemrosesan Gas JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.(dok.PEPC)

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Lapangan Unitisasi Gas Jambaran – Tiung Biru di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur telah produksi penuh 192 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD). Produksi gas JTB saat ini didistribusikan dan diserap oleh PGN, PLN, PKG, Industri serta untuk jaringan gas (Jargas) rumah tangga.

General Manager Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 Mefredi menyampaikan, produksi gas dengan kapasitas penuh lapangan JTB dicapai pada Senin (20/5). Produksi ini telah melebihi persyaratan kontraktual JTB Project untuk melakukan performance test Gas Processing Facility (GPF) selama 3 x 24 jam.

“Capaian produksi 192 MMSCFD ini adalah tonggak penting dan milestone bagi Lapangan JTB. Produksi akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang,” tegasnya.

Pencapaian produksi 192 MMSCF ini, lanjut Mefredi, merupakan hasil kerja keras pekerja menjalankan Gas Processing Facility (GPF) atau plant Lapangan JTB secara kontinyu selama 7 x 24 jam untuk memenuhi target produksi sales gas full capacity dalam rangka memenuhi kebutuhan gas Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Baca Juga :   Rekind Rilis 10 Perusahaan Lokal Lolos Verifikasi

“Kami sangat bangga bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, JTB mempersembahkan produksi full capacity 192 MMSCFD. Ini merupakan upaya terbaik anak bangsa untuk Indonesia Emas. Produk JTB yang 100% berupa gas juga merupakan kontribusi kami terhadap capaian agenda global terhadap upaya transisi energi menuju energi bersih,” ujar Mefredi.

Peran strategis PEPC ialah memastikan kelancaran pengiriman gas dari Lapangan JTB sesuai nominasi buyer melalui pipa transmisi Gresik-Semarang untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Produksi gas JTB saat ini didistribusikan dan diserap oleh PGN, PLN, PKG, Industri serta untuk Jargas rumah tangga,” tandasnya.

Sebagai informasi, Lapangan JTB telah beroperasi dan mengalirkan gas perdana sejak 20 September 2022 lalu. Di awal produksinya, gas sudah mengalir sebesar 30 MMSCFD, secara bertahap meningkat dan beberapa kali berkesempatan memproduksi gas sebesar 192 MMSCFD, namun untuk durasi yang pendek karena keterbatasan demand gas Jawa Timur – Jawa Tengah.

“Capaian penting ini tentunya dibarengi peningkatan kinerja, tetap menjaga operasi yang aman dengan fasilitas produksi yang handal, serta selalu memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitar,” tuturnya.

Baca Juga :   Harga Gas JTB US$6,1 per MMBTU, Lebih Rendah dari Pasar Bebas

Mefredi menekankan kedepannya PEPC berkomitmen untuk menjaga capaian produksi di Lapangan JTB yaitu dengan menjaga aspek-aspek reliability dan integrity fasilitas produksi atau Gas Processing Facility (GPF) pada fase operasi agar beroperasi 100 persen.

“Disamping itu penting untuk selalu menerapkan implementasi aspek HSSE dalam operasi perusahaan dan melakukan upaya optimasi penyerapan gas JTB sesuai komitmen buyer atau PJBG,” terangnya.

Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri menyambut baik kabar sudah tercapainya produksi penuh lapangan gas JTB sebesar192 MMSCFD.

“Tentu ini akan menambah pendapatan daerah dari dana bagi hasil migas,” ucap Lasuri.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro memasang target penerimaan dana bagi hasil (DBH) migas tahun 2024 sebesar Rp 1,8 triliun. Target ini naik tipis dibanding 2023 lalu sebesar Rp 1,7 triliun.

Penerimaan DBH Migas yang diterima Kabupaten Bojonegoro ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya jumlah lifting, harga minyak mentah dunia, dan kurs dollar.(jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *